Ini Kata Pengamat Soal Investasi Tiongkok Dan Tenaga Kerja Lokal

Rabu, 09 Mei 2018 11:48:37
Editor : Fauzi Iyabu | Sumber : DBS.
Ilustrasi Tenaga Kerja Tiongkok. (Istimewa)

Investasi Tiongkok dianggap menarik dan murah lantaran membawa tenaga kerja sendiri. Tapi, ancaman bagi stabilitas tenaga kerja lokal.

JAKARTA – Polemik tenaga kerja Tiongkok di Indonesia yang belakangan ramai diperbincangkan, dianggap hal yang wajar, karena juga terjadi juga di luar Indonesia. Hal ini dikatakan oleh Peneliti Migrasi Tenaga Kerja Internasional PSDR-LIPI, Rudol Yuniato. Menurutnya, investasi Tiongkok yang dilakukan secara besar-besaran, dibayang-bayangi instabilitas tenaga kerja lokal.

Rudolf mencontohkan hal ini dengan penolakan investasi Tiongkok di India dan Eropa. Menurutnya, penolakan ini bukan lantaran faktor politis semata, tetapi langkah antisipasi perlindungan terhadap tenaga kerja lokal. Sebab, investasi Tiongkok diikuti dengan masuknya tenaga kerja Tiongkok.

“Di India juga terjadi perdebatan (tenaga kerja Tiongkok) seperti yang terjadi di Indonesia. Sebab, investasi perusahaan dan bank Tiongkok bisa memengaruhi stabilitas tenaga kerja lokal, serta membebani utang negara,” paparnya, Selasa (8/5).

Lanjutnya, kondisi yang sama juga terjadi di Eropa. Menurutnya, Uni Eropa memandang skeptis proyek New Silk Road yang digagas oleh Tiongkok, untuk memperkuat pengaruh Tiongkok semata. “Eropa menolak dengan alasan yang hampir sama, menjaga ekonomi dalam negeri dan stabilitas tenaga kerja,” tandasnya.

Ditambahkan olehnya, salah satu kelebihan investasi Tiongkok adalah kemurahan dan efisiensi, lantaran membawa tenaga kerja sendiri. “Memang lebih menarik, meski kenyataannya tidak menambah lapangan kerja untuk tenaga kerja lokal. Kayak di Morowali, Sulawesi Tengah (proyek pabrik baja dan pembangkit listrik). Mereka (pekerja asing Tiongkok) membuat koloni sendiri, isinya orang mereka semua,” pungkas Rudolf.