Joint Committee Meeting Antara Kemenristekdikti dan Kementerian Ilmu Pengetahuan Teknologi Tingkok

2017-11-29 16:55:49
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Oktaviani
Kerja sama Indonesia - Tiongkok dibidang Pendidikan. (Istimewa)

TINDAKLANJUT kerja sama IPTEKIN, Kemenristekdikti dan Kementerian Ilmu Pengetahuan Teknologi Tiongkok bentuk ‘Joint Committee Meeting.’

Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Indonesia dan Kementrian Ilmu Pengetahuan Teknologi Tiongkok membentuk ‘Joint Committee Meeting (JCM)’ sebagai tindaklanjut kerja sama dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi (IPTEKIN) pada 2011 lalu.

Hal tersebut bertujuan mengawal pelaksanaan kerja sama yang telah disepakati. Penyelenggara JCM ke-5 ini dilaksanakan di Beijing pada Agustus 2017.

Dalam pertemuan Forum Kerjasama Iptek Inovasi Indonesia Tiongkok, Senin (27/11), dilaporkan implementasi program dan kegiatan tentang ‘joint laboratory‘ bidang bioteknologi dan High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR), transfer teknologi, serta diskusi tentang potensi kerja sama lainnya.

Sebagai upaya memperkuat kerja sama IPTEKIN yang sudah berjalan antar kedua negara, forum ini ditujukan untuk menyosialisasikan hasil kerja sama bilateral kepada komunitas yang lebih luas serta mengundang insitusi lain untuk mendukung program kerja sama ini, Kemenristekdikti Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tiongkok menyelenggarakan “Indonesia-China Science, Technology and Innovation Cooperation Forum”.

Forum kerja sama bilateral Indonesia Tiongkok tersebut dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Kantor Vice PM PR Tiongkok.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, pengelolaan sumber daya manusia, terutama program-program pendidikan bagi generasi muda di dunia yang strategis dan tepat  sangat dibutuhkan. Program tersebut juga harus diarahkan agar penguasaan IPTEKIN dari suatu negara berkontribusi nyata dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu negara dan kesejahteraan masyarakatnya.

Nasir berharap dalam Forum Kerja sama IPTEKIN Indonesia Tiongkok akan terjadi pertukaran pandangan, diskusi insentif, rencana kolaborasi inovatif dan efektif untuk lebih mengefektifikan kerja sama ke depan dalam berbagai bidang seperti Bioteknologi, Sains Tekno Park (STP), Teknologi Transfer, penguasaan teknologi nuklir untuk maksud damai dalam bidang energi (HTGR – High Teknologi Gas Cooled Reactor), Talented Young Scientist ProgramICT Talents Fostering Programs, Agricultural Sciences.

Sementara itu, Liu Yandong, Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok, mengaku senang melihat perkembangan kerja sama di bidang iptek tersebut. Dia mengatakan dalam tiga tahun belakangan jumlah hasil kerja sama iptek kedua pihak sudah jauh melebihi jumlah hasil kerja sama yang dicapai sejak kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama Iptek 52 tahun yang lalu.

Hasil tersebut bukan saja mendorong perkembangan inovasi kedua pihak, tetapi juga memberi dampak positif dan contoh dalam kerja sama inovasi dan iptek antara Tiongkok dengan ASEAN maupun dengan negara lain.

Dalam forum tersebut diluncurkan tiga tahun Plan of Action on Science, Technology and Innovation Cooperation (2018-2020) sebagai pedoman pelaksanaan kerja sama kedua pihak serta launching tiga kerja sama yang telah berjalan yaitu: (i) Joint Laboratory on Biotechnology, focal point di Indonesia adalah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT); (ii) Joint Laboratory on HTGR (High Temperature Gas Cooled Reactorfor safety purposes nuclear technology for energy; dan (iii) Transfer of Technology, focal point is the National Institute of Sciences LIPI.