Pemilihan Koko Cici Sarana Pelestarian Budaya Tionghoa

Selasa, 17 April 2018 16:17:07
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : Oktaviani
Konferensi pers malam final Pemilihan Koko Cici Indonesia 2018. (Oktaviani)

Selain melestarikan Budaya Tionghoa, pemilihan Koko Cici juga menyinergikan budaya tradisional Indonesia dengan Budaya Tionghoa.

JAKARTA – Pemilihan Koko Cici Indonesia memiliki dua fungsi strategis terkait kebudayaan. Pertama, melestarikan Budaya Tionghoa. Kedua, melestarikan sekaligus menyinergikan budaya dari berbagai daerah di Indonesia dengan budaya Tionghoa.

Hal tersebut disampaikan oleh Koko Dumas Flis Tang, Koko Indonesia 2016 sekaligus Ketua Pemilihan Koko Cici Indonesia 2018 dalam sambutan malam final Pemilihan Koko Cici Indonesia 2018.

“Sangat luar biasa mengetahui ada banyak muda-mudi yang memiliki satu tujuan sama yakni membangun negeri ini, yang tidak hanya mengkritik pemerintah dan jajarannya. Melainkan turut ambil bagian dalam pembangunan nasional untuk mengisi kemerdekaan,” tuturnya.

Lebih jauh ia menuturkan, Koko Cici Indonesia merupakan ajang untuk melahirkan Duta Budaya Tionghoa, Duta Pariwisata dan Duta Sosial untuk Indonesia. “Dengan pembekalan dari berbagai bidang, di antaranya Budaya Tionghoa dan bahasa asing, pariwisata, pemerintahan, public speaking dan psikologi, diharapkan akan lahir insan muda yang memiliki behavior, brain dan beauty yang tentunya akan membawa dampak besar untuk generasi muda Indonesia kedepannya,” papar Dumas.

Untuk diketahui, malam final pemilihan Koko Cici Indonesia berlangsung di Nafiri Bay Ballroom, Baywalk Mal, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara pada Jumat (13/4). Diikuti oleh 32 finalis dari delapan provinsi. Koko Steven T perwakilan dari DKI Jakarta II dan Cici Fransiska K perwakilan dari Sulawesi Selatan  I berhasil keluar sebagai pemenang Koko Cici Indonesia 2018. Selain mengusung Budaya Tionghoa, dalam gelaran final ini juga diwarnai kebudayaan dari daerah masing-masing finalis lewat penggunaan kostum tradisional daerah.