Tionghoa dan NU Dorong Gerakan Anti Diskriminasi

2017-08-10 10:17:38
Editor : Azis Faradi | Reporter : Nurrochmansyah
Tokoh Tionghoa dan NU merajut kebersamaan, membuat kolaborasi anti diskriminasi. (Nurrochmansyah)

DALAM merajut nilai-nilai kebangsaan, tokoh Tionghoa dan NU membuat gerakan anti diskriminasi. Menghindari gesekan kaum mayoritas dan minoritas.

Kebhinnekaan di Indonesia, jika tak bisa dirawat dengan baik, bisa melahirkan sikap diskriminasi. Oleh karena itu, perlu gerakan untuk melawannya. Itu yang melatari beberapa tokoh Tionghoa dan Nahdlatul Ulama (NU) melawan anti diskriminasi.

Melalui Gerakan Anti Diskriminasi (GANDI), orang Tionghoa dan NU yang peduli terhadap perpedaan di Indonesia, terus melawan tindakan diskriminasi. Gerakan ini sebagai langkah awal merajut nilai-nilai kebangsaan.

Wahyu Effendi, Ketua Umum GANDI, mengatakan perpedaan yang ada di Indonesia bisa menjadi benih-benih konflik. Lalu menjurus ke sikap diskriminatif kelompok mayoritas kepada minoritas. Oleh karena itu, perlu ada perlawanan terhadap sensitivitas diskriminasi.

“Satu langkah penting pertama yang harus dilakukan adalah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya di sela halal bi halal dan revitalisasi GANDI di Jakarta baru-baru ini.

Apalagi, kata Wahyu, di era sekarang sangat dibutuhkan sikap keterbukaan, transparansi, kejujuran dan pluralisme. Sehingga menghidupkan kembali nurani bangsa. Sudah saatnya semua elemen mengakhiri diskriminasi lewat gerakan.

“Sudah waktunya menghilangkan sikap masa bodoh. Bahkan munafik terhadap segolongan dari bangsa dan rakyat kita, segolongan dari masyarakat, yang sampai detik ini masih mengalami diskriminasi.”

Ketua Pelaksana GANDI Ahmad Arimasyhuri, mendambahkan, pertemuan tokoh Tionghoa dan NU dalam membentuk kelompok anti diskriminasi adalah awal menegakkan nilai-nilai kebangsaan. “Ini motivasi dari NU dan beberapa tokoh Tionghoa dalam rangka merajut nilai kebangsaan,” tegasnya.