Perekonomian Tiongkok Bagai Pedang Bermata Dua

2017-12-06 10:47:27
Editor : Utami Sulistiowaty | Sumber : DBS
Ilustrasi - perekonomian Tiongkok (Istimewa)

PEREKONOMIAN Tiongkok menjadi sorotan dunia. Bagai pedang bermata dua, ada dua pendapat yang mengemuka, optimis dan pesimis.

Potensi perekonomian Tiongkok bagai pedang bermata dua. Kalangan pesimis melihat, perekonomian negara tirai bambu ini cukup mengkhawatirkan. Sedangkan, kalangan optimis beranggapan, Tiongkok adalah harapan baru pasca mundurnya ekonomi AS.

Kalangan pesimis melihat bahwa perekonomian Tiongkok sedang berada dalam tekanan utang raksasa. Angkanya mencapai US$ 28,2 triliun atau setara Rp 366 ribu triliun. Angka ini seratus kali utang luar negeri Indonesia. Utang Tiongkok, meningkat secara signifikan sejak 2007. Kenaikannya mencapai US$ 20,8 triliun.

Tiongkok menguasai dua pertiga dari  peningkatan utang global dalam rentang 2007-2014 sebesar US$ 57 triliun. Saat ini, utangnya mencapai 286 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurut Salamuddin Daeng, Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), sebagian besar utang Tiongkok berkaitan dengan sektor properti, yakni 40-45 persen dari total utang. Dengan dana utangan tersebut, pengembang di negara tersebut membangun properti secara membabi-buta. Hal inilah yang bisa melahirkan gelembung properti.

Tak hanya itu, tanda-tanda perekonomian Tiongkok menuju kehancuran dapat dilihat rendahnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal I, 2015 sebesar tujuh persen. Tahun berikutnya, hanya enam persen. Dan, tahun-tahun berikutnya terus merosot hingga tersisa empat persen.

“Kondisi ekonomi Tiongkok merupakan alarm bagi ekonomi global. Mengapa? Karena jika utang raksasa Tiongkok jatuh, maka puing-puing bangunan utang akan menimpa kawasan Asia, tanpa ampun. Seperti halnya krisis ekonomi 2008 yang menimpa AS akan terulang di Tiongkok,” ungkap Salamuddin seperti yang dilansir Inilah.com.

Berbeda dengan kalangan optimis. Pasca mundurnya ekonomi AS, Tiongkok merupakan harapan baru. Pada 2013, Tiongkok menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia berdasarkan PDB serta eksportir dan importir terbesar di dunia.

Sebagai negara yang memiliki senjata nuklir dan tentara aktif terbesar di dunia, maka Tiongkok memiliki kekuatan terbesar di Asia dan bisa disejajarkan dengan negara adidaya lainnya. AS misalnya. Walaupun demikian, memang diakui dalam kurun waktu tiga tahun ini pertumbuhan ekonomi naik-turun. Perdana Menteri Li Keqiang mengumumkan Pemerintah Tiongkok memangkas target pertumbuhan ekonominya dari tujuh persen menjadi 6,5 persen.

Kini, semua mata dunia sedang memandanga perekonomian Tiongkok. Kalau perekonomian Tiongkok terus melambat, dampaknya tentu berbahaya bagi perekonomian dunia. Hal ini mulai terlihat dari penurunan permintaan dari negara tersebut beberapa tahun terakhir. Penurunan permintaan telah menekan ekspor Indonesia, terutama komoditas pertambangan, migas, dan perkebunan.

Kini, terpenting adalah bagaimana mencegah dampak buruk guncangan ekonomi Tiongkok. Bagaimana Indonesia bisa mengendalikan arus buruh dari Tiongkok. Serta, koordinasi antara kementerian atau lembaga negara menghadapi arus barang, modal, dan SDM dari Tiongkok.