Tiongkok Berburu Pelabuhan sampai Indonesia

2017-07-17 13:16:06
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Penampakan Pelabuhan New Priok di Indonesia, salah satu hasil dari Tiongkok berburu pelabuhan untuk mendukung program One Belt and Road. (Istimewa)

Perusahaan di Tiongkok semakin berambisi masuk ke negara lain, terutama di Asia. Banyak juga yang berburu pelabuhan, bahkan sampai yang ada di Indonesia.

UANG miliar dolar dikeluarkan perusahaan dari Tiongkok, khusus untuk membangun pelabuhan. Terutama di negara Asia menjadi incaran. Tak luput berburu juga di Indonesia, sebagai salah satu kekuatan di Asia Tenggara.

Penguasaan terhadap berbagai pelabuhan di negara-negara Asia untuk mendukung proyek One Belt and Road atau Jalur Sutera Abad 21. Ningbo Zhoushan Port, perusahaan asal Tiongkok ini, misalnya, investasi sebesar US$ 590 juta untuk pengembangan Pelabuhan Kalibaru.

Pelabuhan ini juga dikenal dengan nama New Priok, perluasan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Selain di Indonesia, Tiongkok juga masuk ke pelabuhan besar di Malaysia. Ada empat yang menjadi incaran, untuk Gateway Melaka senilai US$ 7,2 juta, Pelabuhan Kuala Linggi US$ 2,84 juta, Pelabuhan Penang Senilai US$ 1,4 juta, dan Kuantan senilai US$ 177 juta.

Investasi Tiongkok untuk pelabuhan ini diketahui melalui studi dari Grisons Peak, sebuah bank investasi yang berbasis di London, Inggris. Banyak perusahaan dari Tiongkok sedang berupaya untuk membeli atau berinvestasi di 9 pelabuhan di negara yang masuk proyek One Belt and Road.

Berdasarkan catatat Grisons Peak, hingga Juni 2017, Tiongkok telah mengeluarkan dana hingga US$ 20,1 miliar, termasuk yang ada di Indonesia.

“Pada tahun lalu, Tiongkok telah mengumumkannya. Jadi tidak mengherankan jika melihat tingkat peningkatan investasi di pelabuhan dan logistik,” kata Henry Tillman, Kepala Eksekutif Grisons Peak, seperti dikutip dari Financial Times, Senin (17/7/2017).

Sementara itu, Jing Gu, seorang ahli dari Institute of Development Studies di Sussex University, menganalisisi, tujuan dari Tiongkok banyak fokus berinvestasi dan garap proyek di Asia Tenggara, sebagai bentuk menciptakan hubungan yang baik dengan wilayah ASEAN.

“Namun, ini juga (kadang) kontroversial dengan isu-isu yang terus berlanjut. Mengenai kedaulatan teritorial, kekuatan ekonomi dan kebutuhan sumber daya Tiongkok,” jelas Gu.