Xi Jinping Presiden Seumur Hidup = Kehancuran Tiongkok?

Selasa, 13 Maret 2018 14:37:40
Editor : Fauzi Iyabu | Sumber : DBS.
Xi Jinping. (Istimewa)

ika Xi Jinping diangkat menjadi presiden seumur hidup, banyak pengamat menilai hal tersebut berpotensi mengembalikan era kepemimpinan diktaktor tunggal.

JAKARTA – Kongres Rakyat Nasional Tiongkok, menyetujui usulan Partai Komunis Tiongkok untuk mengamandemen konstitusional pembatasan masa jabatan pemerintahan Presiden Xi Jinping, Minggu (11/3). Sehingga, Xi Jinping dimungkinkan tetap menjabat setelah masa jabatannya berakhir pada tahun 2023 mendatang. Dengan kata lain, tidak ada pembatasan masa jabatan dan Xi Jinping dimungkinkan untuk menjabat sebagai presiden seumur hidup.

Kendati mendapat dukungan mayoritas di Parlemen, banyak punya pengamat dan masyarakat di Tiongkok yang menyayangkan keputusan ini. Seperti penolakan lima anggota Kongres Rakyat Nasional Tiongkok yang enggan mendukung keputusan ini. Mereka beranggapan, amandemen terhadap pembatas masa jabatan yang diatur dalam konstitusi 1982 di era kepemimpinan Deng Xiaoping tersebut, berisiko membawa Tiongkok kedalam pemerintahan diktaktor kepemimpinan tunggal era Mao Zedong.

“Ini bisa menghncurkan Tiongkok dan rakyat Tiongkok. Jadi saya tidak bisa tinggal diam dan harus memberi tahu bahwa ada orang-orang yang menentangnya secara terbuka. Lebih dari 2.000 anggota parlemen bertindak seperti boneka dan membawa kita kembali ke era Mao (Zedong). Bagaimana dengan referendum? Apakah mereka berani?,” kecam seorang editor surat kabar bernama Li Datong, seperti dilansir The Guardian.

Dalam Kongres Rakyat Nasional yang berakhir pada Minggu (11/3) kemarin, sebanayk 2.964 peserta menyetujui amandemen ini, tiga orang abstain dan dua orang yang menolak. Didukung penuh oleh parlemen yang dikuasai oleh Partai Komunis Tiongkok, dimana Xi menjadi Sekretaris Jenderal, posisi tertinggi di partai, amandemen masa jabatan ini banyak menuai kritik di luar parlemen.

Untuk diketahui, sebelum adanya amandemen yang memungkinkan Xi Jinping menjadi presiden seumur hidup, Tiongkok membatasi masa jabatan pemerintahan maksimal dua periode sejak tahun 1976, atau setelah wafatnya Mao Zedong. Deng Xiaoping yang ketika itu menjadi Presiden yang mengusulkan hal ini. Deng menilai, kepemimpinan satu orang berbahaya, lantaran hanya mendukung pemujaan terhadap satu orang, bukan kepemimpinan kolektif.