SMC RS Telogorejo Harus Bisa Bersaing dengan RS di Malaysia

2017-12-12 15:18:19
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Diskusi publik di SMC RS Telogorejo. (CHC Saputro)

Agar masyarakat Semarang tak berobat ke luar negeri, SMC RS Telogorejo harus bisa bersaing dengan RS di Malaysia ataupun Singapura.

Di usianya yang ke-66, SMC RS Telogorejo terus berbenah diri. SMC RS Telogorejo harus bisa bersaing dengan Rumah sakit di Malaysia dan Singapura. Agar, ke depannya orang-orang tak lagi berobat ke luar negeri untuk berobat, cukup ke RS Telogorejo, Semarang.

Hal itu diungkapkan Ketua Pembina Yayasan Kesehatan Telogorejo Harjanto Halim dalam sambutannya pada pembukaan acara Diskusi Publik bertajuk ‘Anak Bangsa  Membangun Indonesia’ yang diselenggarakan Yayasan Kesehatan Telogorejo, SMC RS Telogorejo, EIN Institute dan Yayasan Budaya Widya Mitra di Atrum Sim Square, SMC RS Telogorejo, Semarang, Sabtu (9/12) lalu.

Lebih lanjut, Harjanto mengatakan, guna meningkatkan kualitas dan pelayanan di RS Telogorejo harus ada yang dibenahi. Harjanto juga mengingatkan kembali  akan tujuan awal RS Telogorejo yang didirikan  dengan misi dari masyarakat untuk masyarakat.

“Jarak terjauh kemanusian adalah saat acuh tak acuh anak bangsa terjadi. Kita harus melangkah belajar banyak dari pendahulu. Tak hanya berteori, tetapi sudah menjalankan dan mengamalkan, melayani dengan tidak setengah hati. Mari kita belajar bersama-sama menumpang bahtera yang mereka nakhodai,” ujarnya.

Diskusi kali ini menghadirkan Dr. Lie Dharmawan, Dr. Michael Leksodimulyo, dan Sejarawan Ravando Lie, MA sebagai pembicara. Dr. Teguh S Rahardjo didapuk sebagai moderator dalam gelar wicara.

 

Cikal Bakal RS Telogorejo

Mengawali diskusi, sejarawan jebolan Leiden University Ravando Lie memaparkan sejarah perkembangan RS Telogorejo dari masa ke masa. Diawali dengan cikal bakalnya sebuah Klinik Tionghoa bernama Poliklinik Gang Gambiran yang didirikan  di Gang Gambiran, No. 86 Pecinan, Semarang hingga bertransformasi seperti saat ini.

Penulis buku Biografi Dr. Oen ini pun memaparkan secara rinci jejak rekam ihwal kontribusi masyarakat Tionghoa di bidang kesehatan tak hanya di Semarang, tetapi juga di Jakarta, Malang, dan Surabaya.

“Ternyata antara satu dengan lainnya saling berkaitan,"  ujar sejarawan yang kini mengabdi di Indonesian Language and Culture Learning Service (INCULS) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

 

Bekerja dengan Hati

Dr. Lie Dharmawan merasa senang bisa berbagi di forum diskusi ini. Pasalnya, gelar wicara ini cocok dengan pandangannya dan indentik dengan apa yang disampaikannya selama ini.

“Pucuk di cinta ulam tiba. Teko mendapat tutupnya. Gayung bersambut,” ujar pendiri doctorSHARE ini membuka perbincangan dengan berbagai istilah yang menunjukkan rasa  ‘klop’nya dengan gelaran diskusi ini.

Lebih lanjut, Pendiri Rumah Sakit Apung Petama di Indonesia ini, mengatakan, memang selama ini etnis Tionghoa hanya dikenal sebagai ‘hewan’ ekonomi yang berkiprah dan mengumpulkan harta dari berdagang.

Tetapi sekarang ini tidak lagi, salah satu buktinya, kiprahnya dengan  doctorSHARE dan Rumah Sakit Apung diakui pemerintah. Selendang ini dianugerahkan kepada 72 orang anak bangsa dari Unit Kerja Presiden Pembela Ideologi Pancasila (UKPPIP). Jadi selempang 72 Ikon Prestasi Indonesia yang dipakainya ini tidak semabarangan. 

“Apa yang telah saya lakukan cocok dengan kelima butir dalam Pancasila. Saya bangga jadi orang Indonesia,” ujar lelaki kelahiran Padang 18 April 1946 ini.

Dr.Lie yang kini juga mengembangkan layanan Dokter Terbang ini mempunyai misi memberdayakan masyarakat untuk keluar dari penderitaan yang dialami dengan tenaganya sendiri secara holitik. "Ke depan harapannya orang Indonesia bisa jadi tuan di negeri sendiri bukan jadi budak di antara bangsa-bangsa," ungkap Dr. Lie.

Untuk itu, lanjutnya, derajat kesehatan Indonesia harus diperbaiki, terutama di Indonesia bagian Timur melalui penyedian akses pelayanan kesehatan holistik . "Program ini harus inovatif, berkesinambungan dan berbasis semangat kerelawanan," kata Dr. Lie membeberkan konsepnya.

Begitu juga dengan Dr. Michael Leksodimulyo. Pria yang dikenal sebagai dokter spesialis ‘gelandangan’ ini membeberkan kisahnya yang inspiratif. "Kalau orang lain memilih menjadi dokter. Tetapi kalau saya memang sudah dipersiapkan oleh Tuhan untuk menjadi dokter. Saya harus melayani kaum miskin," ujarnya membeberkan motivasinya mengapa dia meninggalkan posisinya yang nyaman dan memilih melayani kaum gelandangan.

Dokter yang pernah mendapat penghargaan Doctor of The World dari WHO - PBB ini kini tak hanya berjuang dalam bidang kesehatan, tetapi juga dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Selain melayani kesehatan Dr. Michael juga mengajar membaca,komputer dan kerajinan.

"Kunci pelayanan yang saya lakukan adalah dengan Kasih. Kasih itu nyata. Dalam kasih itu ada sukacita," ujar penerima  Penghargaan Negara Ksatria Bhakti Husada dari Presiden Jokowi karena kiprahnya dalam bidang kesehatan ini.