Fortiber Rekatkan Keberagaman dan Bangun Kekeluargaan

2017-07-24 10:39:19
Editor : Azis Faradi | Reporter : Nurrochmansyah
Pengurus dan anggota Fortiber. (Nurrochmansyah)

Hadir menjadi komunitas untuk rekatkan keberagaman dan bangun rasa kekeluargaan. Fortiber bukan hanya diisi Tionghoa, tapi dari lintas etnis.

NAMANYA Forum Tionghoa Bersatu, atau Fortiber. Sebuah komunitas yang menghimpun keberagaman antar-etnis. Komunitas ini didirikan untuk rekatkan perbedaan itu menjadi kekuatan dalam membangun bangsa.

Anda Hakim, Ketua Umum Fortiber, mengatakan kelahiran organisasi, karena kegelisahaan di tengah maraknya isu intoleransi. Maka dari itu, Fortiber perlu dilahirkan, sebagai sebuah organisasi untuk menghimpun, memberikan pemahaman, persepsi kebersamaan dalam satu bingkai NKRI.

“Kenapa? Karena bingkai NKRI adalah rumah besar. Dihuni oleh banyak suku bangsa. Dari suku bangsa itu tidak boleh ketinggalan,” katanya.

Menurut Anda, agar nilai-nilai keberagaman dan kebersamaan ini berjalan, maka pengurus Fortiber terus melalukan konsolidasi. Supaya anggota bisa menghayati lebih jauh dan memahami kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Semoga kami menjadi satu contoh yang baik. Bahkan kalau bisa ditiru ormas lain, masyarakat lain umumnya. Titik sasaran kita berlandarkan Pancasila. Ke luar, kami ingin semua anggota Fortiber berbuat baik untuk bangsa. Tidak memandang etnis atau agama lain,” jelasnya.

Eddie Kusuma, Ketua Dewan Pembina Fortiber, menambahkan, Fortiber merupakan wujud rasa syukur dari keberagaman suku, ras dan agama yang ada di Indonesia. Alasan tersebutlah yang membuat Fortiber ingin merangkul semua kalangan.

“Walaupun ada makna bersatu, Tionghoa Bersatu itu maksudnya kita tidak perlu ribut. Siapapun itu bersatu untuk Indonesia. Di Fortiber banyak juga yang bukan Tionghoa,” tegasnya.

Semua kegiatan Fortiber, kata Eddie, bukan untuk kepentingan Tionghoa. Kerap kali melakukan kegiatan sosial tanpa melihat latar belakangnya, seperti santunan untuk lansia, dan lain-lain.

Pendiri Fortiber selain kedua tokoh tersebut, juga beberapa tokoh Tionghoa yang memiliki kepedulian terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Kegiatan yang rutin diadakan, hampir setiap bulan adalah Kopdar. Belum lama ini bertempat di Khubilai Khan Resto, Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kopdar ke-13 ini terasa istimewa, karena dimanfaatkan untuk halal bihalal antar-anggota.

Tema yang diangkat adalah “Kita Tingkatkan Persahabatan Menjadi Persaudaraan.” Tujuan kopdar ini mempererat tali silahturahmi dengan anggota. Lebih mengukuhkan kebhinnekaan antara satu dengan yang lainnya, agar dapat mempererat, membangun dan menjaga NKRI.

“Dan halal bihalal ini adalah tradisi setelah hari raya Idul Fitri. Jadi ini adalah momentum yang paling tepat untuk kita sama-sama silahturahmi. Berdiskusi tentang hal apa saja seperti negara, pribadi, organisasi dan sebagainya,” cerita Anda.

Menurut Anda, momen penyelenggaraan kopdar, sebelumnya pada Ramadhan, sekaligus buka bersama. Setelah lebaran, anggota Fortiber kumpul bersama keluarga, sekarang momentum bersama teman teman.

Acara Kopdar 13 ini dihadiri oleh beberapa anggota dari berbagai kalangan, mulai dari pengusaha, tokoh politik, tokoh agama. Ada diskusi kebangsaan dan kenegaraan, lalu makan bersama. “Kopdar ini bisa jadi ajang saling kenal antar-anggota. Bisa jadi ajang kerjasama juga, sehingga bisa saling membantu.”

Anda berharap kopdar bisa berkelanjutan dan tidak lagi memandang suku ras dan agama.Merasa sebagai sesama anak bangsa. “Dari mana asalnya kita tidak tanyakan. Yang ditanyakan adalah bagaimana ikut berpartisipasi membangun dan menjaga NKRI.”