Xin Hwa, Komunitas Asah Vokal Sekaligus Melestarikan Budaya dan Beramal

2017-06-28 15:10:10
Editor : Azis Faradi | Reporter : CHC Saputro
Xin Hwa, Komunitas paduan suara sekaligus melestarikan budaya. (CHC Saputro)

Meskipun sebagai komunias dengan kegiatan utama asah vokal, tapi tak membuat Xin Hwa abai pada bidang lain. Aktif juga melestarikan budaya dan beramal.

XIN Hwa (Sin Hoa) merupakan komunitas paduan suara Mandarin yang berdiri pada awal Reformasi. Kelompok paduan suara ini dipimpin oleh Tanto Nugroho alias Cun Hai, tokoh Tionghoa di Lampung.

Pertama kali pentas pada 18 Agustus 2002. Ikut meriahkan perayaan HUT ke-47 Kemerdekaan RI, di Sesat Agung, Pendopo Gubernuran Lampung. 

Awalnya, paduan suara Xin Hwa dibina dan dilatih Sutarko, musikus dari Taman Budaya Lampung. Tak bertahan lama, mengundurkan diri karena kendala bahasa. Yang ditunjuk sebagai penggantinya adalah Romey (istri dr. Popo Mandala) pada  17 November 2003.

Koordinator latihan Xin Hwa Lis Linggarningsih alias Lim Sui Ling, menjelaskan Tanto Nugro dalam menjalankan roda organisasi dibantu Aman Jaya, dan Teguh Sugianto.

Kelompok Xin Hwa ini merupakan satu-satunya kelompok paduan suara Mandarin klasik yang bisa mengumandangkan lagu legendaris Hwang He Ta He Chang. Mengisahkan tentang sejarah perjuangan rakyat Tiongkok di Sungai Kuning melawan penjajahan Jepang.

”Di bawah konduktor Ibu Romey,  Xin Hwa pernah menyanyikan  Hwang He Ta He Chang  7 lagu nonstop tanpa jeda. Istimewannya,  semua penyanyi orang Indonesia. Kalau kelompok lain biasanya dibantu penyanyi yang didatangkan khusus dari Chung Kok (Tiongkok),”  paparnya.

Adapun Tanto Nugroho, mengatakan tujuan terbentuknya kelompok paduan suara Xin Hwa ini untuk silaturahmi, melestarikan budaya Tionghoa, dan lagu Mandarin. 

Grup paduan suara yang rutin latihan pada hari Senin – Kamis di Gedung Dharma Bakti ini bisa menyanyi dalam bahasa Mandarin, Indonesia, dan Inggris.

 Selain itu, Xin Hwa merupakan perkumpulan etnis Tionghoa yang peduli terhadap sesama. Anggota tetap komunitas ini mencapai 40 orang.

“Bentuk kepeduliannya diwujudkan dalam konser amal yang hasilnya untuk membantu sesama,” tutup Tanto.