Hwat Kwee, Kue Leluhur Tiongkok Ikon Kota Pati

Rabu, 28 Maret 2018 16:01:54
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : CHC Saputro
Hwat Kwee alias Kue Moho (Istimewa)

Meski berasal dari Semarang, Hwat Kwee kini menjadi salah satu ikon kuliner khas Kota Pati. Padahal baru mulai eksis di Pati tahun 1970-an.

PATI – Sekilas, penampakannya seperti Bakpao. Namun, kue yang satu ini memiliki bagian atas yang lebih cantik dan tekstur lebih pada. Namanya Hwat Kwee, mengandung makna harapan untuk rezeki yang melimpah seperti puncak kuenya yang merekah.

Bentuknya mirip Kue Mangkok yang puncaknya merekah ke empat penjuru, warna merahnya melambangkan kebahagiaan. Bedanya, Kue Mangkok terbuat dari tepung beras, sedangkan Hwat Kwee terbuat dari tepung terigu serbaguna.

Kue yang memiliki nama lain Kue Moho ini adalah salah satu kue yang wajib hadir di meja makan sembahyang leluhur saat Imlek, bagi etnis Tionghoa di Semarang. Khusus untuk sajian meha sembahyang, Hwat Kwee dibuat superbesar dalam keranjang bergaris tengah 10-20 cm dan tinggi 5-8 cm, diletakkan di bagian atas tumpukan Kue Keranjang. Sayang, seiring perkembangan zaman, Kue Moho kini nyaris tergantikan oleh Kue Mangkok. Bahkan, ada yang mendefinisikannya sebagai jenis kue yang sama.

Awalnya, kue ini merupakan adat kebiasaan Suku Hokkian di Semarang. Namun, belakangan berkembang di suku Tiongkok lainnya di Semarang, bahkan menyebar juga ke kota-kota lain, seperti Malang dan Pati.

Bahkan di Pati, Kue Moho diakui sebagai jajanan tradisional khas Pati. Salah satu ciri khas dari kue moho adalah cita rasanya yang manit mengigit dan melekat di rongga-rongga mulut. Orang Pati kadang menyebutnya ‘nyetak’ atau melekat dan menempel.

Menurut Muhaji, produsen Kue Moho asal Desa Blaru, Kecamatan Pati Kota, Kue Moho tak sekadar menawarkan rasa yang manis, legit dan melekat di mulut. Warna Kue Moho khas Pati , merah putih ternyata punya makna filosofi, terinspirasi dari Bendara Indonesia.Kue Moho hanya dibuat dari bahan-bahan yang sangat sederhana, yaitu tepung terigu, gula, soda kue dan pewarna alami yang diambil dari tumbuhan tertentu.

"Kue Moho dibuat separuh merah dan putih, terinspirasi dari kemerdekaan Bangsa Indonesia. Di Pati, Kue Moho eksis mulai sekitar tahun 1970-an. Karena itu, kita kasih pewarna alami berwarna merah, sehingga hasilnya merah putih. Warna putih berasal dari warna alami tepung terigu,” papar Muhaji.

Menurut Muhaji, cara membuat Kue Moho cukup sulit, melalui dua tahap pengukusan. Bahkan, ada beberapa pantangan yang harus dipatuhi dalam membuat kue ini. Antara lain, wanita yang sedang haid tidak boleh ikut dalam pembuatan kue ini, karena dianggap sedang tidak bersih. Selama pembuatan juga tidak boleh berkata-kata jelek dan harus berhati gembira. Jika pantangan tersebut dilanggar, kuenya tidak akan merekah. “Orang di Kota Pati sudah mengenalkan sebagai jajanan yang melekat di mulut. Itu memang menjadi karakter dan ciri khas Kue Moho atau Hwat Kwee. Beda dengan kue lainnya, karena ini dibuat tanpa memakai telur,” pungkasnya.