Rasakan Sensasi Kehangatan Wedang Tahu Semarang!

2017-09-14 15:11:58
Editor : Azis Faradi | Reporter : CHC Saputro
Wedang Tahu Semarang, kuliner khas akulturasi Jawa dengan Tionghoa. (Istimewa)

COBA rasakan sensasi kehangatan dari Wedang Tahu Semarang. Kuliner hasil akulturasi budaya Tionghoa dengan Jawa. Seperti apa?

Banyak kuliner yang lahir dari hasil silang budaya, salah satunya Wedang Tahu Semarang. Minuman yang lahir dari pergaulan budaya dua etnis di Jawa Tengah. Sensai kehangatan yang dihasilkan membuat ketagihan.

Wedang tahu yang merupakan salah satu minuman hangat khas Semarang, lebih dikenal dengan mana Tahok. Kuahnya jahe, seperti wedang ronde, tapi isiannya kembang tahu yang terbuat dari sari kedelai.

Minuman yang biasanya dijajakan pedagang kaki lima atau penjual keliling dengan memikul ini pertama kali dibuat oleh warga Tionghoa. Begitu juga saat dijual kepada masyarakat, tapi kini tidak lagi.

Banyak orang Jawa yang kerja di juragan wedang milik Tionghoa, lalu mengikuti pembuatan dan penjualannya. Sehingga menyebar di tengah masyarakat. Minuman yang satu ini memang tak setenar wedang ronde.

Adi, salah satu penjual Wedang Tahu Semarang yang biasa mangkal di Jalan Mataram, mengatakan, jenis minuman hangat ini cukup diminati warga lokal. Termasuk orang luar yang sedang berada di Semarang. Sebelum buka warung wedang, dia ikut jualan milik seorng warga Tionghoa.

“Dulu Pak Adi, paman saya, ikut jualan wedang tahu milik orang Tionghoa di Kampung Bandaran. Tetapi ketika krisis tahun 1997, paman saya keluar dan berjualan sendiri. Aslinya resep wedang tahu ini milik orang-orang Tionghoa Semarang,”  ujar Suprapto, keponakan Adi, kepada Indochinatown.com, Kamis,14 September 2017.

Minuman yang enak dinikmati selagi hangat ini punya kemiripan dengan wedang ronde. Tetapi, kenyal dan lembutnya kembang tahu menjadi pembeda. Untuk urusan harga, cukup murah hanya Rp 6.000  per porsi.