Eddie Lembong, Mencintai Tanah Air Sepenuh Hati

2017-11-08 10:22:44
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Drs. Eddie Lembong, APT. (Istimewa)

MENCINTAI Tanah Air sepenuh hati merupakan motto hidup Eddie Lembong. Ini diejawantahkan dalam kehidupannya.

Indonesia kehilangan salah satu putra terbaik bangsa. Eddie Lembong telah pulang ke rumah Tuhan dengan damai di RS Graha Kedoya, Jakarta Barat pada Rabu (1/11/2017) pukul 15.38 WIB. Kelahiran Palasa, Tinombo (Gorontalo), 30 September 1936 ini memiliki motto hidup ‘Mencintai Tanah Air Sepenuh Hati.’

Tak sekadar retorika, motto hidup alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Farmasi ini diejawantahkan dalam kehidupannya. Hal ini dia tularkan kepada bawahannya agar tak mencintai tanah air setengah hati.

Bahkan, pada awal Oktober 2017, dalam keadaan sakit, pendiri PT Pharos Indonesia ini memaksakan diri untuk hadir di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) guna menandatangani MoU mengenai pembangunan karakter manusia.

Semasa kuliah Eddie aktif di organisasi pemerintah. Ini yang meneguhkan jiwa kepemimpinan dan kebhinekaan dalam dirinya. Kiprahnya dibidang farmasi di masa Orde Baru, baik di bidang organisasi (Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia) ataupun bisnis, membuatnya menerima penghargaan, FAPA Ishidate Award (1996), suatu penghargaan bergengsi di bidang farmasi internasional.

Kiprahnya tersebut mendapat perhatian dari peneliti, Andew J. Macintyre, yang tertuang dalam bukunya ‘Business and Politics in Indonesia (1991) dan William A. Muraskin, ‘War Against Hepatitis B’ (1995).

Pembangunan Karakter Bangsa

Pasca reformasi, Eddie ini lebih dikenal sebagai sosok yang peduli dengan masalah-masalah kebangsaan, khususnya yang terkait etnis Tionghoa serta penguatan karakter bangsa.

Eddie pernah menjadi Wakil Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) sebelum akhirnya menjadi salah satu pendiri dan Ketua Umum Pertama Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI), yang dideklarasikan pada 10 April 1999.

Pemilihan nama ‘Indonesia-Tionghoa’ ini menunjukkan sikap politik Eddie dan rekan-rekannya. Pertama-tama dengan tegas menyatakan bahwa mereka adalah orang Indonesia.

Selama enam tahun memimpin INTI (1999-2005), Eddie berkeliling Indonesia dan menjalin kerja sama dengan berbagai instansi pemerintah, organisasi massa dan keagamaan serta perguruan tinggi. Beberapa MoU telah ditandatangani INTI dengan beberapa kampus. Banyak kehiatan akademis yang telah dilakukannya, baik dalam bentuk seminar maupun penerbitan buku.

Terkait internal INTI, Eddie mampu mendirikan 10 pengurus daerah dan 19 pengurus cabang INTI di se-Indonesia. Kiprahnya di INTI membuat peneliti asal AS Amy L. Freedman menyebut nama Eddie dalam bukunya ‘Political Participation and Ethnic Minorities’ (2000).

Tak puas sampai disitu, anak dari pasangan Joseph dan Maria Lembong ini mendirikan Yayasan Nation Building (Nabil). Organisasi nirlaba ini memfokuskan kegiatannya pada dua hal, yakni memperkuat karakter bangsa dan golongan Tionghoa.

Kontribusi Eddie lainnya adalah terkai penghapusan secara resmi istilah ‘Cina’, yang dianggap merendahkan, menjadi ‘Tionghoa’ oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 12 Maret 2014 melalui Kepres Nomor 12 tahun 2014 tentang Pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Nomor SE-06/Pres.Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967.

Isinya menyebutkan, dalam semua kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, penggunaan istilah orang dan atau komunitas Tjina/China/Cina diubah menjadi orang dan atau komunitas Tionghoa. Untuk penyebutan Negara Republik Rakyat China diubah menjadi Republik Rakyat Tiongkok.

Semua kiprah Eddie mendapat apresiasi dari almamaternya. Dalam rangka perayaan ulang tahun ITB ke-94 (Juli 2014), dia menerima penghargaan ‘Ganesa Wirya Jasa Adiutama’, dengan pertimbangan: ‘Drs. Eddie Lembong, Apt telah menunjukkan jasa serta kontribusi kepada Institut Teknologi Bandung dan institusi di Indonesia, sehingga dipandang memenuhi syarat untuk mendapatkan Penghargaan Ganesa Wirya Jasa Adiutama.’

Didi Kwartanada, Yayasan Nabil mengatakan, walaupun hari-harinya dilalui dengan cuci darah, namun sakit tak memadamkan semangat Eddie. Terlihat, dia masih menyempatkan diri menghadiri beberapa acara.

Selamat jalan Eddie Lembong. Jasa-jasamu untuk bangsa ini akan selalu dikenang.