Hari Darmawan. Pelopor Ritel Modern Lewat Matahari Grup

Senin, 12 Maret 2018 14:21:41
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : Oktaviani
Hari Darmawan. (Istimewa)

Jika Anda pernah menemui gerai Matahari di kawasan Pasar Baru, Jakarta. Itulah saksi Hari Darmawan merintis Matahari Grup sejak tahun 1968.

JAKARTA – Pendiri Matahari Grup, induk dari jaringan ritel Matahari Department Store sekaligus Taman Wisata Matahari (TWM), Hari Darmawan, meninggal dunia. Ia ditemukan tewas di Sungai Ciliwung, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Sabtu (10/3). Sebelum meninggal dunia, pengusaha ini dilaporkan hilang.

 Jenazah Hari ditemukan sekitar pukul 06.30 WIB oleh saksi Deni Sudiana beserta empat orang rekan lainnya yang menyisir Sungai Ciliwung dengan menggunakan perahu karet. Dugaan sementara, Hari meninggal karena jatuh terpeleset ke dalam sungai dan hanyut terbawa arus.

 Semasa hidupnya, Hari Darmawan dikenal sebagai pengusaha nasional dengan jaringan bisnis yang besar. Selain mendirikan ritel Matahari Department Store, Hari juga merupakan inisiator sekaligus pemilik Taman Wisata Matahari. Sebuah taman wisata populer yang berlokasi di Cilember, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

 Hari lahir dengan nama Tan Tjan Hok pada 27 Mei 1940 di Makassar, Sulawesi Selatan. Ia terlahir dalam sebuah keluarga besar dengan 12 bersaudara. Ayahnya, Tan A Siong, merupakan pengusaha lokal di Makassar. Usaha ayahnya menemui kendala pada tahun 1950-an hingga akhirnya bangkrut. Hari kemudian membantu memulai usaha ayahnya dari nol. Lulus SMA, ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta.

 Di Jakarta, Hari bertemu dengan pemilik sebuah toko serba ada (toserba) 'Mickey Mouse' di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Ia kemudian menikahi putri pemilik 'Mickey Mouse' tersebut. Di tangan Hari, Mickey Mouse berkembang pesat.

 Leo Suryadinata dalam 'Prominent Indonesia Chinese' menulis, Hari membeli sebuah toserba terbesar di Pasar Baru waktu itu, Toko 'De Zon' pada 1968. Setelahnya, ia mengubah nama De Zon menjadi 'Matahari'. De Zon merupakan bahasa belanda yang berarti matahari.

 Masuk ke dekade 1980-an, Matahari menjelma menjadi jaringan ritel terbesar di Indonesia. Cabang-cabangnya hampir ada di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Hal ini tidak lepas dari tangan dingin Hari mengelola Matahari Department Store. Ia pun pernah terpilih menjadi Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). 

Krisis moneter yang terjadi pada 1997-1998 menjadi momok paling menakutkan bagi pengusaha-pengusaha Indonesia. Begitu juga Hari Darmawan. Jaringan bisnisnya yang sudah dibangun puluhan tahun terkena dampak krisis moneter. Ia menanggung kerugian besar hingga akhirnya bisnisnya dibeli oleh Lippo Group.

 Tak mau lama terpuruk, Hari kemudian mendirikan perusahaan baru bernama "Pasar Swalayan Hari-Hari". Di bawah bendera PT Griya Pesona Mentari, Hari Darmawan membangun kembali bisnisnya. Pada 2010 setidaknya ia memiliki sejumlah pusat perbelanjaan yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Hingga akhir hayatnya, nama Hari Darmawan tetap diakui sebagao pelopor gerai ritel modern dengan Matahari Grup yang didirikannya.