Kisah Bangkit Dari ‘Kematian’ Pakar Penerbangan Ken Liem Laheru

Senin, 07 Mei 2018 13:12:01
Editor : Fauzi Iyabu | Sumber : DBS.
Ken Liem Laheru bersama B.J Habibie semasa sama-sama kuliah di Jerman Barat. (Istimewa)

Bukan sekadar pakar penerbangan, Ken Liem Laheru merupakan sahabat BJ Habibie sejak kuliah teknik penerbangan di Jerman Barat.

JAKARTA – Sejarah kedirgantaraan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sosok Tionghoa yang satu ini. Bersama dengan B. J Habibie, Ken Lim Laheru merupakan dua sahabat yang mengangkat dunia kedirgantaraan Indonesia.

Lahir pada 23 Agustus 1935 di Kandugede, Kuningan, Jawa Barat, Ken Liem Laheru kelak menjadi profesor di bicang rancang bangun pesawat. Bersama Habibie, keduanya menempuh pendidikan Rheinisch Westfalische Technische Hochschule (RWTH) Aachen atau RWTH Aachen University, Jerman Barat.

Biasa dipanggil Liem Kengkie, ia merupakan peranakan Tionghoa anak dari Liem Swie Ho dan Tan Pin Ho. Tamat dari SMA Kristen, ia berhasil diterima di ITB kemudian berlanjut ke RTWH Aachen University. Di kampus ini, ia menyabet gelar Diplom Ingineur (Dipl.-Ing) bidang Aeoronautika pada tahun 1960.

Kemampuannya di bidang Aeronautika dilengkapi dengan kemampuan berbahasa Belanda dan Jerman dengan fasih. Tak cukup hanya itu, ia juga mengerti Bahasa Norwegia, Spanyol, Italia, Prancis dan Jepang.

Usai menamatkan kuliahnya, pehobi olahraga Tenis Lapangan dan Ski ini memutuskan untuk kembali ke Tanah Air dan berbagai ilmu yang dimilikinya. Bersama sang rekan Oetarjo Diran, Liem mulai mengajar di Teknik Mesin ITB tahun 1961. Selain itu, bersama Habibie ia pun mendirikan sekolah teknik industri, guna mendukung industri penerbangan Tanah Air yang tengah tumbuh masa itu.

Belum lama mengabdi untuk Indonesia, Liem dihadapkan pada perubahan peta politik yang diikuti sejumlah peristiwa berdarah, hingga peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru yang diikut dengan isu rasial. Liem pun memilih untuk keluar dari Indonesia demi keselamatannya dan keluarga, kendati berat baginya lantaran ia dilahirkan di Indonesia.

Lewat bantuan Habibie, Lim berhasil memeroleh pekerjaan di Jerman Barat, tepatnya Hamburger Flugzuebau, dimana Habibie juga bekerja di sini. Sayang, upayanya ke Jerman gagal, lantaran ITB tidak menyetujui permohonan Liem. Karena desakan waktu, Liem memilih untuk hijrah ke Amerika Serikat dan menjadi warga negara Negeri Paman Sam.

Satu hal yang menarik, nama Ken Liem Laheru dinyatakan ‘meninggal’ di Indonesia. Nama Kiem Lengkie sebagai nama lain Liem pn diganti menjadi Ken Liem Laheru untuk menutupi identitasnya. 

Di Amerika Serikat, Liem hidup normal bahkan mendapatkan pengakuan atas keilmuannya. Ia bekerja sebagai ilmuwan senior bidang desai roket pada Morton Thiokol atau ATK. Ia juga melanjutkan program doktoral teknik mesin di University of Utah, Salt lake City dengan penelitian berjudul ‘Thermomechanical Coupling in Visco-Elastic Fracture’. Di tahun 1975, penelitiannya tersebut diterbitkan dalam NASA Technical Report.

Di Morthon, Liem bertanggung jawab untuk mengembangkan metode guna memprediksi perambatan retak pada stuktur roket dan mengembangkan model baru pemahaman dan prediksi perilaku roket propelan padat. Selama bekerja di Morton,  ia dan keluarganya tinggal di Birmingham City, Utah. Setelah pensiun pada September 2001, pakar penerbangan kebanggaan Indonesia ini pindah ke North Salt Lake City. Belum sempat kembali ke Tanah Air paska ‘terusir’ di tahun 1969, Ken Liem Laheru wafat pada 7 Mei 2011. Ia disemayamkan di Gereja Katolik Saint Olaf, Bountiful, Utah, Amerika Serikat.