Liem Koen Hian, Pejuang Indonesia yang Terasingkan

2017-08-04 14:31:03
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Liem Koen Hian (Istimewa)

TANPA kenal lelah Liem Koen Hian terus bergerak mendorong kemerdekaan bangsanya. Menjadi pejuang Indonesia. Tapi ia menjadi orang yang terasingkan.

Liem Koen Hian. Sebelum terjun ke dunia politik, bergelut dengan dunia jurnalistik. Banyak menghabiskan waktu sebagai wartawan pada masa perjuangan. Namanya kini masuk menjadi salah satu pejuang nasional.

Lahir di  Banjarmasin pada tahun 1897 dari keluarga pedagang. Profesi kebanyakan warga Tionghoa sejak dahulu. Tapi ketika dewasa, malah tak mengikuti jejak orangtuanya. Justru memilih jalan pembawa kebenaran pada waktu itu.

Waktu kecil, dikeluargan dari Hollandsch-Chineesche School (HCS), karena kerap berkelahi dengan gurunya. Statusnya sebagai warga yang tak menyelesaikan pendidikan, tetap memberikan ruang untuk dia bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Tak lama kemudian, Liem memutuskan untuk masuk ke sebuah koran di tanah kelahiraanya. Memulai karier sebagai wartawan. Pada tahun 1915, dia pindah ke Surabaya, Jawa Timur, dengan meneruskan profesi di bawah naungan  Tjhoen Tjhioe, surat kabar lokal.

Hanya butuh dua tahun, ia kemudian menerbitkan majalah Soe Liem Poo. Akan tetapi, tak bertahan lama, karena ia memutuskan hijrah ke Aceh. Ia memilih vakum dari dunia kewartawanan, memilih sebagai pedagang kecil.

Dari Aceh kemudian pindah ke padang, Sumatera Barat, menjadi pemimpin redaksi Sinar Soematra sampai 1921. Lalu balik ke Kota Pahlawan, masuk ke Pewarta Soerabaia. Tahun 1925 ia mendirikan Soeara Poeblik.

Dunia kewartawanan membentuk karakter Liem, memegang teguh prinsip kebenaran dan menumbuhkan rasa nasionalis. Ia bahkan mulai kampanye pentingnya orang Tionghoa menjadi salah satu etnis di Indonesia. Menjadi warga negara yang satu.

Kemudian namanya makin berkibar, bersama dengan Siauw Giok Tjhan, mendirikan Partai Tionghoa Indonesia. Berjuang di jalur politik untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Ia memadukan ilmu kewartawanan dengan politik. Melakukan propaganda melalui tulisan-tulisannya di surat kabar Sin Tit Po.

Dari Surabaya, dia pindah ke Jakarta, sekitar tahun 1933. Selain mengurus surat kabar dan atur intrik politik, juga dikabarkan mengenyam pendidikan sekolah hukum. Pergantian penjajah, dari Belanda ke Jepang, membuatnya semakin garang.

Ia menjadi motor penggerak kampanye anti Jepang. Hal itu membuatnya diseret ke penjara oleh penjajah. Meskipun mendekam di balik jeruji besi, tak membuatnya kompromi dengan penjajah, justru sebaliknya, menguatkan hatinya untuk berontak.

Berkat pergaulan yang luas di Surabaya, membuatnya dibebeaskan, karena hubungan pertemanan dengan Nyonya Honda. Setelah keluar, aktivitasnya terus dijalankan. Pada tahun 1945, jelang kemerdekaan Indonesia, ia masuk bersama beberapa kawan Tionghoanya menjadi anggota  Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Di BPUPKI ia memperoleh banyak pengalaman dan ilmu perundingan. Hal ini membuatnya terpilih sebagai salah satu anggota delegasi Perundingan Renville pada tahun 1947. Perjuangan lewat jalur politik terhenti, karena memilih jalan sebagai pedagang obat dengan membuka apotek di Tanah Abang, Jakarta Pusat tahun 1951.

Ketika mengelola apotek itu, ditangkap, karena dianggap menjadi salah satu simpatisan kiri, musuh pemerintah. Hal ini membuatnya sedih dan kecewa, karena negeri yang dulu dibela mati-matian justru memperlakukannya seperti kriminal.

Tindakan ini membuatnya melepas status kewarganegaraan Indonesia, tapi tetap mengunjungi negeri kelahirannya. Pada tahun 1952, di Medan, menghembuskan nafas terakhir, sebagai Tionghoa Indonesia.

Meskipun Liem telah tiada, tapi semangatnya bersama kawan-kawan Tionghoanya tentang menjaga Indonesia masih berkobar hingga 72 tahun Kemerdekaan Indonesia. Menjadi cerminan bagi yang memiliki rasa nasionalisme tinggi terhadap Indonesia.