Oei Tjoe Tat, Loyalitas Tinggi kepada Presiden Soekarno

2017-06-06 12:27:52
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Oei Tjoe Tat (Istimewa)

Tak perlu diragukan lagi, semasa hidupnya Oei Tjoe Tat memiliki loyalitas tinggi. Sadar sebagai pembantu Presiden Soekarno di pemerintahaan.

OEI Tjoe Tat, lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada 26 April 1922. Ia meninggal dunia di Jakarta pada 26 Mei 1996, di usia 74 tahun.

Semasa hidupnya, pengalaman organisasi pergerakan dan politik telah diakui. Lulusan Universitas Indonesia, dulu namanya Universiteit van Indonesië, tahun 1948 ini mulai kenal dengan dunia politik ketika berteman dengan Siauw Giok Tjhan, wartawan pada akhir tahun 1930-an.

Kiprah politiknya ia teruskan, bergabung dengan Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI) pada tahun 1953. Lalu pada tahun 1960 menjadi anggota Partai Indonesia (Partindo), kelompok politik yang berhaluan Marhanisme.

Keterlibatan dalam dunia politik itu membuatnya mendapatkan kepercayaan menjadi anggota Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) pada tahun 1954.  

Soekarno juga mengangkat Oei Tjoe Tat menjadi Menteri Negara pada 1963. Menjadi anggota Kabinet Dwikora atau Kabinet 100 Menteri.

Dalam dunia pergerakan, namanya juga sama dengan di dunia politik. Dia bergabung dengan Serikat Rakyat dan Buruh Surakarta ketika era Revolusi Indonesia. Pada tahun 1946, menjadi pengurus Sin Ming Rui, organisasi khusus etnis Tionghoa.

Ketika berkarier sebagai anggota Baperki, dia merupakan salah satu motor penggerak yang menolak asimilasi etnis Tionghoa di Indonesia. Hal itu juga disetujui oleh Soekarno, karena bisa mengaburkan identitas aslinya.

Kecemerlangan dalam politik, organisasi dan pemerintahan ternyata tak membuatnya selamat dari tekanan Orde Baru. Peristiwa Gestok tahun 1965 membuatnya ditahan.

Dipenjarakan selama 10 tahun tanpa proses pengadilan. Oei bebas pada tahun 1977. Saat merayakan ulang tahun pernikahan emasnya, ia menerbitkan buku berjudul Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno.

Akan tetapi, buku tersebut pada 1995 dilarang beredar oleh Pemerintah Orde Baru, dan Kejaksaan Agung membuat menyetujuinya, karena menganggap “meracuni pikiran generasi muda”.

Selama hidup hingga sudah mati, Oei Tjoe Tat tetap dianggap sebagai tokoh yang punya loyalitas tinggi terhadap Presiden Pertama. Meskipun ia harus merasakan kehidupan pahit, diasingkan oleh bangsanya sendiri.