Siauw Giok Tjhan, Tokoh Gerakan Kemerdekaan dan Pejuang Politik yang Terlupakan

2017-07-18 16:47:24
Editor : Azis Faradi | Reporter : Nurrochmansyah
Siauw Giok Tjhan (Istimewa)

Pada zaman itu nama Siauw Giok Tjhan sebagai tokoh gerakan kemerdekaan cukup populer. Begitu juga dengan kiprahnya jadi pejuang politik, tapi terlupakan.

MENYEDIHKAN! Nama Siauw Giok Tjhan, hampir tak pernah terdengar sebagai salah satu tokoh gerakan kemerdekaan. Meskipun sebagai Tionghoa, tapi rasa nasionalismenya sangat kuat.

Dalam politik, ia dianggap sebagai pejuang, karena terlibat dalam penataan sistem bagi negara baru yang bernama Indonesia.

Kelahiran Surabaya pada 23 Maret 1914 ini memiliki pendirian dan watak keras serta jiwa perlawanan. Maklum semasa hidup kerap merasakan diskriminasi terhadap Tionghoa. Semakin beranjak dewasa, semangat perjuangkan tentang keadilan tambah kokoh.

Ia memiliki keyakinan sebagai putra Indonesia, walaupun keluarganya merupakan orang dari Tiongkok. Semangatnya membela Indonesia tak pernah padam, sejak muda, hingga wafat di usia 67 tahun.

Siauw mengikuti semboyan “Lahir di Indonesia, Besar di Indonesia menjadi Putra-Putri Indonesia” yang dikumandangkan oleh Kwee Hing Tjiat melalui Harian MATAHARI di Semarang dari tahun 1933-1934.

Selama muda itu, dia terus berjuang untuk memerdekakan Indonesia dari cengkraman Belanda. Pada tahun 1932, usia Siauw Giok Tjhan baru 18 tahun, tapi terlibat dalam pendirian Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Ia masuk menjadi pelopor termuda.

Pemikiran Siauw merupakan perpaduan antara sosialisme dan kapitalisme. Mendukung pemerintah mendorong kemajuan pengusaha lokal, tanpa memandang etnis, tapi merata bagi semua kalangan.

Ia merupakan salah satu kelompok yang menolak asimilasi, yaitu sistem kependudukan dua negara, karena menurutnya, Tionghoa yang lahir di Indonesia merupakan penduduk asli. Dia mendorong integrasi.

Setelah Indonesia merdeka, ia menjadi perwakilan Tionghoa di pemerintahan. Menjadi Menteri Negara Urusan Minoritas dalam Kabinet Amir Syarifudin. Selama menjabat pejabat negara, Siauw dikenal sebagai sosok yang tetap sederhana, tak punya kendaraan pribadi.

Anak dari pasangan Siauw Gwan Swie dan Kwan Tjian Nio ini selain pernah menjabat menteri, juga anggota BP KNIP, anggota parlemen RIS, anggota DPR hasil pemilu 1955 atau anggota Majelis Konstituante, anggota DPRGR/MPR-S, dan anggota DPA.

Ia juga menjabat ketua umum Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (BAPERKI). Organisasi ini melahirkan lembaga perguruan tinggi yang sekarang dikenal dengan nama Universitas Trisakti. Ini merupakan hasil dari buah perjuangan Siauw.

Pengorbanan yang dilakukan untuk Indonesia, buyar seketika ketika dia dituding terlibat dalam peristiwa 1965. Ia dipenjara selama 10 tahun tanpa proses pengadilan. Setelah keluar lebih banyak di luar negeri. Pada tahun 1981 dia wafat di Leiden, Belanda.