Tan Tiong Siok, Pejuang Kemerdekaan Yang Terlupakan

Kamis, 05 April 2018 11:16:18
Editor : Fauzi Iyabu | Sumber : DBS
Jenazah Tan Tiong Siok saat disemayamkan. (Istimewa)

Kendati berstatus veteran pejuang kemerdekaan, pemegang Bintang Gerilya, Tan Tiong Siok menolak diistimewakan. Menolak Tawaran Presiden Soekarno.

JAKARTA – Berbicara mengenai pejuang kemerdekaan Indonesia yang berdarah Tionghoa, seringkali nama Tan Tiong Siok terabaikan. Namanya tidak sepopuler Laksamana Jhon Lie yang memilik nama lengkap John Lie Tjeng Tjoan alias Jahja Daniel Dharma. Namun,  jasa Tan Tiong Siok yang akrab dipanggil Pak Tani tidak kalah dengan Laksama John Lie. Bahkan, Pak Tani menerima penghargaan Bintang Gerilya dari  Pemerintah Republik Indonesia yang diserahkan langsung oleh Presiden Soekarno.

Lahir pada 14 Januari 1921, Pak Tani ikut mengangkat senjata saat perang merebut kemerdekaan tahun 1945, serta perang mempertahankan kemerdekaan saat Agresi Militer Belanda ke-2 di tahun 1948. Ia merupakan orang kepercayaan Kolonel Bejo, Komandan Laskar Napindo pada Pertempuran Medan Area 1942 serta Komandan Batalyon III Andalas Utara, Brigade B Komandemen Sumatera. Tak hanya di daratan, Pak Tani juga menjadi pendamping Kolonel Bejo saat memimpin pertempuran dari atas kapal kecil di wilayah Selat Malaka.

“Pak Tani merupakan pejuang dengan pangkat terakhir Sersan Veteran NPV 25602/F. Beliau veteran yang sangat senior di Sumatera Utara. Mungkin beliau penerima Bintang Gerilya terakhir yang masih hidup di Sumatera Utara,” ujar Danrami 05/Meda Baru Kapten (Inf) Mustaqim saat memimpin upacara militer pelepasan jenazah Pak Tani pada 18 September 2017.

Jauh sebelum menghembuskan nafasnya di RS Herna Medan pada usia 96 tahun, pria asal Hokkien ini menghabiskan masa mudanya untuk berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain Bintang Gerilya yang diberikan Presiden Soekarno pada tanggal 3 Oktober 1958, Pak Tani yang memiliki 4 anak dan 7 cucu ini juga memiliki Surat Penghargaan Satyalencana Aksi Militer Kedua yang ditandatangani Menteri Pertahanan RI Djuanda yang diterbitkan pada 5 Oktober 1958. Serta, SK Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI Jenderal Poniman tertanggal 25 Oktober 1983 tentang Pengakuan, Pengsesahan dan Penganugerahan Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI No. Skep/573/M/X/1983.

“Beliau senior veteran di Sumatera Utara. Kawan seperjuangan beliau adalah Pak Bejo dan Kaharuddin (Kaharuddin Nasution), mantan Gubernur (Sumatera Utara) kita,” terang anggota LVRI Kota Medan Sauridas (75).

Mendiang Rektor Universitas Sriwijaya Palembang yang juga ahli bahasa Prof. Dr. Amran Halim pernah menuturkan, saat masih menjadi Tentara Pelajar, ia pernah mendengar nama Pak Tani disebut-sebut, seperti halnya Mayor R.M Ryacudu (Komandan BPKR Sumbagsel Kotabumi-Lampung). Para veteran Sub Komando Sumatera Bagian Selatan (SUBKOSS) yang meliputi Lampung, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Bangka Belitung juga mengenalnya.

Sederet jasa dan pengakuan dari negara, tidak membuatnya besar kepala dan berbangga. Sebaliknya, ia tetap rendah diri. Ini dibuktikan dalam beberapa kesempatan. Misalnya, saat mendampingi Kolonel Bejo bertemu dengan Presiden Soekarno usai Agresi Militer Belanda kedua, ia sempat ditawari ingin pangkat apa oleh Presiden Soekarno. “Saya tidak mau pangkat Yang Mulia Presiden. Cukup Sersan saja seperti yang ada. Selesai agresi (Agresi Militer Belanda). Saya mau melanjutkan usaha dagang saja,” jawabnya ketika itu.

Pun demikian saat ia ditawarkan untuk dimakamkan di Taman Makan Pahlawan, ia menolaknya. Tawaran ini datang dua kali, pertama dari Mayjen TNI Tri Tamtomo, kedua sesaat sebelum ia meninggal. Padahal, sebagai pejuang kemerdekaan dan pemegang Bintang Gerilya, ia berhak dikuburkan di Taman Makam Pahlawan. “Saya tidak membutuhkan kehormatan itu, saya justru prihatin karena banyak pejuang lain yang mati tanpa dikubur. Saya bersyukur selamat dari revolusi,” kata Tani waktu ini.

Tri Tamtomo pun mencoba meyakinnya sekali lagi. “Memang tidak perlu untuk Pak Tani, tapi bagi anak cucu perlu, agar masyarakat tahu, ada juga orang Tionghoa yang berjuang untuk kemerdekaan RI,” tukas Tri. Pernyataan ini dijawab lugas dan tegas oleh Pak Tani, “Anak cucu saya juga tidak perlu. Mereka harus mengandalkan perbuatan baik mereka sendiri, tidak boleh mengandalkan nama besar orangtua. Kalau saat hidup mereka tidak bisa berbuat baik, ya tanggung sendiri,” tegasnya.

Sebagai pejuang kemerdekaan dengan sederet jasa dan penghargaan yang diterimanya, Tan Tiong Siok memilih untuk tetap berada bersama rakyat biasa, kendati sudah meninggal, dengan memilih dikuburkan di Pemakaman Umum Tanjung Morawa, Deliserdang, Sumatera Utara.