Tjan Tjoe Som Bapak Sinolog Indonesia

2017-09-11 15:39:42
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Tjan Tjoe Som (Istimewa)

GELAR pendidikan yang diperoleh sampai profesor. Itulah Tjan Tjoe Som, seorang akademisi yang mendapatkan julukan sebagai Bapak Sinolog Indonesia.

Tjan Tjoe Som lahir pada 1903 dan meninggal tahun 1969 atau di usia 66 tahun. Ia merupakan guru besar di Universitas Indonesia. Julukan sebagai Bapak Sinolog Indonesia bukan tanpa sebab, karena jejaknya dapat ditemukan sebagai sekarang.

Bahkan muridnya yang terkenal dalam ilmu sinolog yaitu studi tentang Tiongkok dan topik Tionghoa adalah Mely G Tan. Kelahiran Surakarta pada 15 Februari ini sempat belajar secara otodidak dalam ilmu sinologi, islamologi, filsafat dan antropologi.

Saat menempuh pendidikan di Agemene Middlebare School (AMS) Yogyakarta, ia terpaksa kembali ke Surakarta, karena membantu orangtuanya mengelola usaha yang terancam gulung tikar. Setelah itu, ketemu dengan Prof.Duyvendak.

Orang tersebut mendorongnya untuk mempelajari sinologi. Lalu berangkatlah ia ke Belanda, melanjutkan belajar di Universitas Leiden, Belanda. Mengambil jurusan sinologi dengan thesis Po Hu T'ung atau Kelenteng Harimau Putih.

Bapak Sinolog Indonesia yang terlahir dari keluarga Tionghoa Muslim ini usai sekolah tak langsung pulang ke Indonesia. Memilih bekerja di Perpustakaan Sinologi Leiden. Pada saat itu menerbitkan thesisnya pada tahun 1949.

Setahun berikutnya diangkat menjadi Profesor Filosofi Chinese di Leiden. Sukses meraih gelar profesor membuatnya kembali ke Indonesia pada tahun 1952. Di Indonesia, Tjoe Som menjadi orang pertama yang perkenalkan ilmu sinologi klasik dan modern.

Ia kemudian beraktivitas di Lembaga Sinologi Indonesia, menyatu dengan Jurusan Sastra Tionghoa, sekarang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Dii salah satu universitas terbaik ini dia banyak mengembangkan keilmuwan sesuai dengan latar belakangnya.

Saat mengajar di Universitas Indonesia, ia tergabung dengan Himpunan Sarjana Indonesia (HSI), yang pada masa Orde Baru dianggap sebagai onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika peristiwa 1965 pecah, membuatnya kehilangan jabatan.

Gelar guru besar yang melekat pada dirinya dihapus pada tahun 1966. Setelah itu tidak diijinkan meninggalkan Indonesia sampai meninggal pada 1969.  

Banyak karya ilmiah yang dilahirkan Tjoe Som, seperti DePlaats van de Stidie der Kanonieke in de Chinese Filosofie, On the rendering of the world ”Ti” as ”emperor”, Sardjana Sastra dan Pembangunan Kebudayaan Nasional: Sebuah Prasaran, Tao Te Tjing, serta Chinese Historical Sources and Historiography.