Ciliandra Fangiono, Triliuner Termuda di Indonesia

2017-12-06 14:12:09
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Oktaviani
Ciliandra Fangiono (Istimewa)

DI usianya ke-41, Ciliandra Fangiono menjadi orang termuda yang masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Triliuner Termuda di Indonesia.

Ciliandra Fangiono. Nama ini mungkin asing ditelinga sebagian masyarakat Indonesia. Namun tahu tidak, pria ini merupakan triliuner termuda di Indonesia. Di usianya ke-41, dia menjadi orang termuda yang masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia.  Dia dan keluarganya berada pada urutan ke-22 versi Majalah Forbes. Forbes mengestimasi kekayaannya mencapai 1,42 miliar dollar AS atau sekitar Rp 19,17 triliun (Rp 13.500 per dollar AS).

Kekayaannya berasal dari perusahaan keluarga yang bernama First Resources. Merupakan sebuah perusahaan multi nasional yang bergerak dibidang kelapa sawit. Perusahaan ini awalnya dirintis oleh ayah Ciliandra, Martias. Di tangannya, bisnis ini semakin menggurita. Lahan sawit yang dimilikinya saat ini tersebar di Riau dan Kalimantan.

Ciliandra berhasil meningkatkan ukuran area perkebunan kelapa sawit perusahaan dari 146.000 hektar menjadi 247.000 hektar. Selain itu, dia juga membangun satu perusahaan lagi di bawah First Resources Limited, yakni PT Ciliandra Perkasa. Perusahaan ini berkaitan dengan pengilangan dan produksi minyak sawit. Ciliandra juga bertindak sebagai direktur perusahaan tersebut. Prestasi terbesar perusahaan adalah akuisisi 100.000 hektar lahan untuk perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur, yang juga terkenal sebagai pusat industri kelapa sawit terkemuka.

Guna meningkatkan pengetahuannya dibidang bisnis, Ciliandra  Fangiono meneruskan studinya di University of Cambridge. Dia mengambil jurusan Master of Arts (Economics) baik sarjana maupun master. Selama perkuliahan, dia dikenal sangat cerdas dan berprestasi.

Dia pernah memenangkan sebuah penghargaan bernama PriceWaterhous Book Prize. Dengan prestasinya yang memukau, tak heran dia bisa menjadi seorang pengusaha sukses.

Kunci kesuksesannya dalam berbisnis adalah belajar tanpa akhir. Sebagai seorang putra pemilik bisnis, dia beruntung bisa memperoleh gelar sarjana ekonomi dari Cambridge University. Dia menghabiskan beberapa tahun bekerja sebagai staf pada divisi investasi bank di Meryl Lynch di Singapura. Di sini, dia bekerja sambil meningkatkan pengetahuan dan kepandaiannya dalam merger, akuisisi, dan pengetahuan bisnis umum.

Dengan seluruh pengetahuan, pengalaman, dan pembelajarannya, wajar saja jika dia berhasil menjadi konglomerat termuda. Dia memang mewarisi bisnis keluarga, namun kepandaian dan intuisi bisnisnya juga yang membuatnya mampu meraih kesuksesan.