Dari Kisah Dewi Bulan ke Perayaan Mooncake Festival

2017-10-10 14:04:19
Editor : Azis Faradi | Reporter : Oktaviani
Kisah Chang-E, ketika terbang karena pil keabadian, membuatnya menjadi Dewi Bulan. Diperingati setiap tahun oleh masyarakat Tionghoa di seluruh penjuru negeri. (Istimewa)

BERAWAL dari kisah Dewi Bulan, maka lahirlah perayaan setiap tanggal 15 bulan 8 tahun Imlek. Kini lebih dikenal dengan nama Mooncake Festival.

Sebuah legenda di tengah masyarakat Tionghoa. Kisah tentang Dewi Bulan, yanng menjadi cikal bakal perayaan Mooncake festival setiap tahun. Melibatkan warga Tionghoa di seluruh dunia untuk menikmati kebersamaan di bawah purnama setiap tanggal 15 bulan 8 kalender Imlek.

Pada zaman dahulu kala, di Tiongkok, hiduplah keluarga kecil, istrinya bernama Chang-E dan suaminya bernama Hou Yi, seorang pemanah ulung. Kehidupan mereka berubah ketika suatu hari, 10 matahari, menyerupai burung api muncul bersamaan.

Harusnya, matahari itu terbit bergantian. Hal itu menyebabkan bencana kekeringan dan kemarau panjang melanda seluruh muka bumi.

Hou Yi dengan panah pusakanya berhasil memanah sembilan dari 10 matahari, menyisakan satu untuk menunjang kehidupan di bumi. Hou Yi pun menjadi pahlawan.

Berkat jasanya, Ratu Langit memberikan hadiah berupa dua buah pil keabadian agar Hou Yi dan Chang-E bisa hidup abadi di Istana Langit. Mereka memutuskan untuk menyimpan pil itu dan menunggu saat yang tepat untuk naik ke langit. Penuh bahagia, pasangan itu menanti hari baik untuk bersama-sama menjadi dewa dan dewi.

Namun, ketika Hou Yi pergi berburu, seorang muridnya yang serakah mencuri pil keabadian tersebut agar bisa menjadi dewa. Chang-E mengetahui perbuatan si murid. Terjadilah pertengkaran memperebutkan pil keabadian itu.

Dalam kondisi panik dan terdesak, Chang-E terpaksa menyembunyikan kedua pil itu di dalam mulut dan tanpa sengaja menelannya. Akibat dua pil itu, tubuh Chang-E menjadi sangat ringan. Ia tak mampu lagi mempertahankan kakinya agar tetap bersandar pada tanah.

Tubuh Chang-E melayang lebih tinggi dari atap rumah. Tak lama kemudian ketinggiannya sudah melampaui ujung pohon tertinggi di hutan. Pada saat itu, Hou Yi pulang. Melihat istrinya melayang, dia menyadari kalau Chang-E telah menelan kedua pil itu.

Hou Yi marah karena mengira si istri telah mengkhianatinya. Dalam kemarahan, sang pahlawan merentangkan busurnya. Berniat memanah supaya istrinya jatuh. Beruntung, Hou Yi mengurungkan niatnya itu. Hati hancur, hanya bisa terpaku memandangi Chang-E, istri tercinta.

Chang-E melayang semakin tinggi di langit dan mendarat saat tiba di permukaan bulan yang dingin. Tak ada kehidupan di sana. Chang-E yang malang hanya bisa menangis tanpa tahu cara pulang ke bumi, agar bisa menjelaskan semuanya kepada suaminya.

Sang Ratu Langit yang merasa kasihan padanya dan membuatkan sebuah istana di bulan serta memberikan seekor kelinci untuk menemani hari-hari Chang-E. Kemudian menjelma menjadi Dewi Bulan.

Di bumi, Hou Yi akhirnya mengetahui kejadian sebenarnya. Si murid yang durhaka, mendapat hukuman berat. Kendati demikian, tak mengubah nasib terpisah dari si istri. Tak ada lagi pil keabadian.

Dunia mereka sudah berbeda, yang bisa dilakukan Hou Yi hanya menunggu, berharap suatu saat Chang-E akan turun ke bumi untuk mengunjunginya.

Sejak saat itulah, setiap tanggal 15 bulan ke-8, hari saat Chang-E naik ke langit, Hou Yi menyiapkan kue dan makanan kesukaan istri. Berharap saat melihat kue itu Dewi Bulan teringat padanya dan bersedia turun dari istana di bulan.

Tahun demi tahun berlalu, Hou Yi pun menjadi tua dan akhirnya meninggal dalam kesendirian. Masyarakat sekitar yang kasihan pada nasib malang pahlawan mereka meneruskan kebiasaan Hou Yi. Memberi persembahan pada Dewi Bulan setiap tanggal 15 bulan ke-8.

Menurut Hartono, pengurus Vihara Budhi Bakti Batam, memang terdapat beberapa versi mengenai legenda Chang-E, Sang Dewi Bulan. Meski demikian, inti dari setiap cerita adalah untuk menghormati Chang-E.

“Masyarakat Tionghoa merayakan Festival Kue Bulan dengan mempersembahkan kue dan buah-buahan yang manis untuk Dewi Bulan. Perayaan Mooncake Festival memang dimanfaatkan sebagai momen untuk berkumpul bersama keluarga. Tradisi ini masih berlangsung hingga sekarang,” ungkapnya.