Genta Dan Tambur, Penunjuk Waktu Pada Masa Tiongkok Kuno

Kamis, 26 April 2018 17:40:47
Editor : Editor1 | Reporter : CHC Saputro
Ilustrasi Genta. (Istimewa)

Genta dan Tambur merupakan penunjuk waktu yang lazim digunakan pada era Tiongkok kuno. Bisa berfungsi sendiri-sendiri, bisa pula berbarengan.

JAKARTA - Zaman dahulu kala, belum ada alat penunjuk waktu.  Jika ada juga masih berupa jam air yang tidak semua keluarga bisa memilikinya. Kebanyakan orang dulu berpatokan pada matahari untuk menentukan waktu, termasuk di Tiongkok. Namun, seiring perkembangan zaman, penduduk Tiongkok kuno mengenal zhong atau genta dan juga tambur sebagai pengganti penanda waktu.

Kata zhong  atau genta dalam pengertian lain bisa diartikan seperti jam. Menurut budayawan Tionghoa Ardian Cangianto,  zhong  atau genta memiliki peranan sebagai petunjuk waktu pada masa lampau. “Jadi agar orang-orang tahu waktu yang sedang berjalan, digunakan genta dan tambur sebagai penanda waktu,” paparnya.

Fungsi tambur yang lain adalah sebagai pemberitahu, terutama digunakan di kantor-kantor pemerintahan, misalnya ada pengaduan dari rakyat ke kantor pejabat kota, biasanya dilakukan dengan memukul tambur yang tersedia di halaman kantor.

Lebih lanjut, dikatakannya, Mugu chenzhong artinya adalah saat saat senja (memasuki malam hari ) biasanya penandanya tambur, sedanga saat fajar genta peanndanya. “Ini bukan berarti saat fajar genta yang membahana dan saat senja tambur yang dipukul, perbedaannya adalah saat fajar, genta yang pertama kali dipukul dan tambur yang pertama kali ditabuh saat senja,” rincinya.

Saat bunyi dari ke genta dan tambur berbunyi, artinya adalah jam mao ( 05:00 – 07:00 ) dan jam you  ( 17:00 – 19:00 ). Fajar menyingsing, masyarakat menjadi aktif dan saat senja, masyarakat beristirahat, jadi berfungsi sebagai pemberitahuan kegiatan di mulai dan dihentikan.

Bunyi itu membahana sebanyak 108 kali dengan patokan bunyi 2 tambur 1 genta atau dengan irama cepat dan irama lambat. terkait dengan konsep system perhitungan kalender Tiongkok 12 bulan,24 jieqi ( satuan dwi mingguan yang terkait dengan garis edar matahari ) 72 hou( satu hou adalah lima hari ) , yang menunjukkan perputaran satu tahun, langit dan bumi ( alam semesta ) abadi.

Selain berfungsi sebagai penunjuk waktu, tambur dan genta ditaruh di menara yang cukup tinggi dan memiliki penjaga berfungsi juga sebagai pemberitahuan jika ada mara bahaya atau perampok.

Tambur dan Genta adalah 2 benda penting yang ada di setiap kelenteng, tidak perduli itu kelenteng bernuansa Taoism, Buddhism Tiongkok atau Ruism. Asal muasalnya tidak berasal dari kelenteng tapi dari bangunan kerajaan serta pemerintahan kota. Kota besar yang termasuk kuno seperti Xi An, Kai Feng, Bei Jing dan banyak kota lainnya memiliki 2 bangunan utama yang disebut gulou  dan zhonglou ( menara tambur dan menara genta ).

Selain itu juga kelenteng-kelenteng besar juga memiliki gulou dan zhonglou, misalnya di Puji si Pu Tuo shan , Bao Lian si, juga banyak kuil di Wudang Shan juga memiliki bangunan seperti itu. Umumnya kelenteng-kelenteng yang kecil, tidak memiliki bangunan khusus untuk genta dan tambur ini, biasanya diletakkan di dalam wilayah bangunan kelenteng tersebut. Beberapa sekte keagamaan Buddhism di Tiongkok, misalnya Fayan memukul genta dan tambur sehari empat kali, dimana yang dua lainnya penunjuk waktu selesainya kegiatan makan. Dalam perkembangan di tempat-tempat ibadah yang bernuansa Tionghoa, bunyi genta dan tambur itu juga memiliki fungsi yang sama, yaitu penunjuk waktu dimulainya dan  berhentinya aktifitas, seperti persiapan untuk ritual pagi dan sore hari.