Ho Tek Bio Pasar Wage, Klenteng Tertua di Purwokerto

Jumat, 19 Januari 2018 13:56:29
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Gerbang Klenteng Ho Tek Bio Pasar Wage. (Istimewa)

KLENTENG Ho Tek Bio Pasar Wage berdiri sejak 1831. Klenteng yang kerap disebut Klenteng Pasar Wage ini merupakan klenteng tertua di Purwokerto.

Ho Tek Bio Pasar Wage merupakan klenteng tertua di Purwokerto. Klenteng yang berada di Jalan Pemotongan No. 3, Purwokerto, Jawa Tengah ini telah berdiri sejak 1831. Awal berdiri bangunan klenteng yang dikenal dengan Klenteng Pasar Wage ini sangat sederhana, namun kini telah terjadi perbaikan beberapa kali, yakni 1879 dan terakhir pada 1987.

Memasuki klenteng, Anda akan menjumpai gerbang yang didominasi dengan warna merah kuning serta ornamen khas klenteng, seperti sepasang naga berebut mustika di atas wuwungan gerbang. Tersedia pula sepasang Ciok Say (patung singa) berwarna hijau di depan gerbang.

Lazimnya sebuah klenteng, di sebelah kiri adalah singa jantan yang memegang uang logam Tiongkok (gobok) atau bola, sedangkan di sebelah kanan adalah singa betina yang menimang anaknya. Di halaman klenteng terdapat pagoda beratap tumpang yang digunakan untuk membakar kertas sembahyang bagi arwah leluhur.

Pada pintu bagian dalam dijaga sepasang naga emas melilit pilar dengan sisik perut dan punggung berwarna kemerahan yang dibuat halus dan sangat cantik. Di kiri kanan pintu masuk terdapat mural dewa yang berdiri melayang di atas awan, berpakaian perang dan pedang terhunus memandang setiap tamu yang memasuki gerbang.

Sedangkan lampion di sebelah kiri dihias lukisan harimau. Dibalik pintu masuk adalah altar untuk menyembah Dewa Langit (Giok Hong Tai Tee). Di klenteng biasanya tidak ada gambar atau arca Dewa Langit, namun hanya ada hiolo besar berkaki tiga (Hiolo Thi Kong) yang diletakkan di teras. Sebelum bersembahyang ke altar lain, umat biasanya berdoa dulu kepada Thi Kong dengan membakar dupa dan menancapkan hionya.

Altar Hian Thian Siang Tee (Dewa Langit Utara) berada di ruang utama Klenteng Hok Tek Bio Pasar Wage Purwokerto. Sosoknya digambarkan sebagai dewa dengan pakaian perang berwarna keemasan yang terkesan mewah. Tangan kanannya menghunus pedang penakluk iblis, sedangkan kedua kakinya yang tidak menggunakan sepatu menginjak kura-kura dan ular. Altar lainnya yang ada di klenteng ini adalah untuk pemujaan Guan Yu atau Kwan Kong, Dewa Pelindung Perdagangan, Dewa Pelindung Kesusastraan dan Dewa Pelindung Rakyat dari petaka perang.

Di tempat lain, ada Dewa Kwan Kong juga dipuja karena memiliki watak yang budiman, memegang janji, setia, dan berani. Juga ada altar Tju Sen Nyo Nyo dan Ngo Tjoo yang diapit sepasang naga. Selain itu, ada altar Wu Lu Chai Sen (Dewa Rejeki 5 Penjuru), terdiri dari Jiang Zi Ya yang diberi kitab ‘Yu Fu Jin’ dari Kaisar Langit, Zhao Gong Ming Dewa Reksa Arta yang memimpin dan mengatur kekayaan manusia di Dunia Timur, Na Zhen Tian Cun Ji Bao untuk Dunia Barat, Zhao Cai Shi Zhe Deng Jiu Gong untuk Dunia Selatan, dan Xian Guan Tao Shao Si yang memimpin dan mengatur kekayaan manusia di Dunia bagian Utara.

Di ruang utama Klenteng Hok Tek Bio Pasar Warge terdapat sebuah altar memanjang. Ruang tengah adalah altar Dewa Bumi Fude Zhenshen (Hok Tek Ceng Sin, Da Bo Gong), yang menjadi tuan rumah klenteng. Di sebelah kanannya adalah Dimu Niangniang (Tuti Papho) dan Sanbao Daren (Sampo Taydjien). Sedangkan di sebelah kirinya adalah Huangze Zhunwang (Kongtek Cun Ong) dan Taishang Laojun.

Pada kolongnya terdapat altar yang diperuntukkan bagi Lao Hu Shen (Dewa Macan), Long Shen (Dewa Naga), dan Tuthi Pakung-Tuti Papho. Altar Konghucu juga ada di Klenteng Hok Tek Bio Pasar Wage dengan Genta Rohani berwarna keemasan lambang Konghucu terlihat pada dinding, yang menjadi perlambang penyuluh kehidupan bagi umat Konghucu.

Pada sisi dinding terdapat tulisan tentang Delapan Pengakuan Iman yang isinya: Pertama, sepenuh iman percaya kepada Tuhan YME. Kedua,  sepenuh iman menjunjung kebajikan. Ketiga,  sepenuh iman menegakkan Firman Gemilang. Keempat, sepenuh iman menyadari adanya nyawa dan rokh. Kelima, sepenuh iman memupuk cita berbakti. Keenam, sepenuh iman mengikuti Genta Rokhani Nabi Kongzi. Ketujuh, sepenuh Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing, dan Kedelapan, sepenuh Iman menempuh Jalan Suci.

Di sebuah sudut ruang terlihat beberapa joli yang biasa diarak pada perayaan Cap Go Meh, serta Naga hitam bersisik merah kuning yang digunakan dalam pertunjukan barongsay. Tampak pula sebuah Tambur yang biasa ditabuh pendoa ketika hendak melakukan ibadah.