Jejak Komunitas Tionghoa di Bumi Tidar

2017-10-06 16:05:11
Editor : Azis Faradi | Reporter : CHC Saputro
Klenteng Liong Hok Bio, saksi sejarah jejak komunitas Tionghoa di Bumi Tidar. (CHC Saputro)

DARI sebuah klenteng, menyimpan jejak sejarah komunitas Tionghoa di Bumi Tidar atau Magelang. Menyaksikan derap kehidupan ratusan tahun.

Menelusuri jejak keberadaan komunitas Tionghoa di Bumi Tidar atau Magelang, Jawa Tengah, bisa melalui saksi bisu, Klenteng Liong Hok Bio. Berada di Jalan Pemuda, kawasan pecinan dekat alun-alun Kota Magelang.

Klenteng itu berdiri pada tahun 1864 oleh Kapitein Be Koen Wie atau Be Tjok Lok. Itu terjadi setelah persitiwa pemberontakan terhadap Pemerintah Belanda di Batavia, sekarang Jakarta, pada tahun 1740.  

Tionghoa yang selamat dari pembantaian, coba menyebar ke berbagai daerah.  Ke Jawa Barat, dan pesisir timur laut Jawa Tengah, seperti ke Semarang, Jepara dan Lasem. Dari kelompok itu, ada yang ke Kedu Selatan, lalu tinggal di Desa Klangkong Djono, selatan Kutoarjo.

Meskipun dalam keadaan mearantau, warga Tionghoa tetap mempertahankan bakti kepada Tuhan dan dewa. Terutama kepada Twa Pek Kong, atau Dewa Bumi. Mereka sembahyang dengan tempat seadanya.

Suasana damai pun tercipta, hingga perang Diponegoro pada tahun 1825. Menjalar ke wilayah Kedu Selatan. Ini berdampak terhadap masyarakat Tionghoa setempat. Perampokan tak terhindarkan, membuat The Ing Sing, bergelar Bu Han Lim dari Tiongkok melakukan perlawanan.

Masyarakat lokal meminta komunitas Tionghoa itu untuk meninggalkan Desa Djono, diminta ke arah timur laut. Rombongan berangkat, sesampai di Magelang, ada beberapa yang menetap, dan sisanya melanjutkan perjalanan.

Rombongan yang menetap di Magelang memilih tinggal di Ngarakan, sebelah barat pecinan sekarang. Setelah perang Diponegoro selesai tahun 1830, tokoh Tionghoa bernama Be Koen Wie atau Be Tjok Lok dari Surakarta pindah ke Magelang.

Orang ini diangkat oleh Belanda menjadi Letnan, karena jasanya cukup banyak. Di Magelang, ia menjadi kaya raya. Harta dan tanah banyak, membuatnya berinisiatif menyumbangkan sebidang tanah.

Lalu lahan itu dibangun klenteng dengan nama Liong Hok Bio. Setelah usia dibangun, Twa Pek Kong yang  ada di Ngarakan dipindahkan ke kelenteng itu. Sejak saat itu, masyarakat Tionghoa dari berbagai daerah datang beribadah.

Kemudian pada tahun 1906, klenteng dikelola oleh Yayasan Kong Kwan. Tak lama kemudian mendirikan Tiong Hwa Hwee Kwan (THHK), yayasan khusus mengelola klenteng.  Kini Klenteng Liong Hok Bio menjadi salah satu ikon Kota Magelang sekaligus saksi sejarah.