Jejak Muslim Tionghoa Di Sumenep Madura

Selasa, 03 April 2018 14:32:42
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : CHC Saputro
Masjid Agung Sumenep yang memiliki ciri percampuran arsitektur Tionghoa. (Istimewa)

Banyak jejak sejarah peninggalan Muslim Tionghoa di Sumenep Madura. Namun, banyak pula warga Tionghoa setempat yang memeluk agama Khonghucu dan Kristen.

MADURA  - Jika ada wilayah yang sering dikaitkan dengan komunitas Muslim Tionghoa di Sumenep Madura, Kecamatan Dungkek adalah  jawabnya. Ya,  kawasan sering dijadikan tempat penelitian mahasiswa dan akademisi.

Ada dua versi asal-muasal nama Dungkek. Pertama, dalam catatan budaya-tionghoa.net, disebutkan Dungkek berasal dari kata ‘Dong Kek’ atau Tongke yang artinya, tempat masuknya para pendatang dari Tiongkok (Sengkek). Menurut pengurus Klenteng Pamengkasan Imam, wilayah Kecamatan Dungkek memang diyakini tempat masuknya para pendatang warga Tiongkok. Dan, sampai saat ini masih ada pelabuhan yang digunakan para pendatang asal Tiongkok yang masih digunakan oleh masyarakat.

Versi kedua, Dungkek berarti ‘Madung Singkek’ yang berarti ‘Singkek yang menggali batu’ atau juga ‘Dudung Singkek’. Disigi dari berbagai sumber, Marga Tjoa yang kali pertama datang ke Sumenep sebagai tukang batu untuk menggali dan memahat batu, dan kemudian digunakan sebagai bahan bangunan untuk membangun gapura Masjid Agung Sumenep pada tahun 1779, serta Keraton Sumenep yang dibangun pada tahun 1781.

Jejak lain Muslim Tionghoa di Sumenep adalah, saat ini  di Desa Lapa Laok dan Dungkek banyak ditemukan banyak pemakaman peranakan komunitas Muslim Tionghoa. “Di lokasi pemakaman itu memang benar nisannya tetap bernuansa Tionghoa, tapi yang sudah masuk agama Islam di atasnya ada nisan bercirikan Islam. Buyut saya juga Tionghoa dan semua keturunannya memeluk agama Islam,” terang warga sekitar bernama Abdul Kafe.

Ditambahkan olehnya, hingga kini Muslim Tionghoa yang masih ada, hidup rukun dengan warga setempat dan banyak juga yang melakukan pernikahan dengan warga asli Sumenep Madura. “Namun, saat ini masih ada juga warga Tionghoa yang tinggal di Dungkek juga ada yang memeluk agama Khonghucu dan Kristen, namun tetap hidup rukun dengan lingkungan sekitar. “Komunitas warga Tionghoa masih tetap kental dengan budayanya sendiri,” tutup Abdul Kafe.