Jejak Pertama Tionghoa di Nusantara

2017-10-19 13:13:53
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Klenteng Hong Tiek Hian di Surabaya, diperkirkan sebagai bangunan tempat ibadah pertama orang Tionghoa di Indonesia. Situs ini juga sebagai bukti jejak Tionghoa di Nusantara. (Istimewa)

DALAM catatan sejarah, jejak pertama orang Tionghoa di bumi Nusantara, terjadi ribuan tahun yang lalu. Menambah warna etnis di Indonesia.

Membaca kembali jejak kedatangan pertama kali etnis Tionghoa ke Nusantara, bukan dari kedatangan Laksamana Cheng Ho atau Zheng He, ratusan tahun yang lalu. Akan tetapi, jauh sebelum itu.

Diperkirakan pada abad ke-5 sampai ke-7, terdamparnya orang Tionghoa di Jawa, yang ingin belajar agama Buddha ke India. Ini berdasarkan catatan tertua yang ditulis oleh Fa Hien.

Ia adalah pengembara dari daratan Tiongkok, dan melaporkan bawah ada negeri di Nusantara. Fa Hien, melaporkan bahwa di Jawa terdapat kerajaan-kerajaan. Dia juga menyempatkan diri untuk belajar bahasa Sanskerta pada Jnanabhadra.

Biksu lain yang menjadi sumber sejarah kedatangan orang Tionghoa ke Indonesia adalah I Ching. Bahkan, ia tercatat pernah mengunjungi kerajaan Sriwijaya. Dia tinggal di Palembang, Sumatera Selatan selama 6 bulan, dan 2 bulan di tanah Melayu, sekarang bernama Jambi. Kemudian ia ke India, diperkirakan pada tahun 671.

Menurut Sun Ang, Konsul Jenderal Tiongkok untuk Sumatera, setelah 14 tahun di Tanah Hindustan, I Ching kembali ke Sriwijaya, dan hidup selama 10 tahun dari 685 sampai 695. Setelah itu, ia kembali ke negerinya, menerjemahkan kitab agama Buddha dalam bahasa Mandarin.

Setelah itu, mulai terjadi gelombang migrasi, tapi dalam jumlah yang kecil. Mereka mulai datang ke Jawa, tanpa membawa perempuan, karena pada saat itu, menurut adat Tiongkok, tak boleh keluar daratan.

Mereka mulai berdagang, membaur dengan penduduk lokal, sekaligus menikahi gadis-gadis setempat. Mereka mulai melahirkan Tionghoa peranakan. Kehadiran mereka juga tercatat jelas di prasasti perunggu yang diperkirakan dibuat pada tahun 860 di Jawa Timur.

Dalam prasasti terlulis Juru Cina, sebagai catatan tentang peran masyarakat Tionghoa sebagai pejabat di bawah kekuasaan kerajaan. Bukti lain kehadiran masyarakat Tionghoa adalah motif relief pada Candi Sewu di Klaten, Jawa Tengah.

Candi yang dibangun pada abad ke-8 ini memiliki relief yang mirip dengan motif pada kain sutera asal Tiongkok. Besar kemungkinan, pada era itu, sudah mulai menyebar masyarakat Tionghoa di pulau Jawa.

Bukti lain kehadiran masyarakat Tionghoa juga tertulis pada awal berdirinya Kerajaan Majapahit abad ke-13. Pasukan Tar-Tar di bawah rezim Khu Bilai Khan, yang tiba di Surabaya, Jawa Timur, membangun tempat ibadah.

Klenteng Hong Tiek Hian, diperkirakan berdiri pada tahun 1293, atau telah berusia sekitar 724 tahun. Klenteng ini dianggap sebagai yang pertama berdiri di Jawa ataupun seluruh Indonesia.

Pedagang dari Tiongkok, juga dianggap sebagai yang pertama menemukan pulau Banda di Maluku Utara. Surganya rempah-rempah. Bahkan jauh sebelum Arab dan Persia, maka budaya Banda banyak dipengaruhi oleh budaya Tiongkok.

Gelombang baru kedatangan ekspedisi dari Tiongkok terjadi pada abad ke-15 di bawah Laksamana Cheng Ho. Melakukan pendaratan di Jawa, Sumatera dan beberapa wilayah lain di Indonesia berkisar dari tahun 1405 sampai 1433.

Dalam rentang 28 tahun itu, Cheng Ho melakukan pendaratan di wilayah Nusantara sebanyak 6 kali dari 7 pelayaran yang dilakukan mengelilingi dunia. Melakukan ekspedisi untuk berdagang.

Bahkan jejak-jejak Cheng Ho diabadikan oleh masyarakat Tionghoa, salah satunya dengan pembangunan Klenteng Agung Sam Poo Kong dan Patung Cheng Ho, di Semarang, Jawa Tengah.

Cheng Ho juga dianggap sebagai salah satu penyebar agama Islam di Indonesia, karena kebetulan ia adalah seorang Muslim.

Kelompok lain juga datang melalui Tangerang, Banten. Menurut Kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyangan atau Catatan dari Parahyang, sebuah perahu terdampar, karena mengalami kerusakan di muara Sungai Cisadane, Tangerang.

Kejadian itu terjadi sekitar 610 tahun yang lalu, atau bertepatan dengan tahun 1407 Masehi. Perahu itu, membawa rombongan Then Tjie Lung atau Halung bersama tujuh kepala keluarga.

Di antara rombongan itu, terdapat sembilan gadis cantik dan anak kecil. Tujuan utama rombongan itu adalah Jayakarta, sekarang Jakarta. Mereka juga kehabisan perbekalan, karena lamanya waktu mengarungi lautan dari daratan Tiongkok.

Saat itu, Tangerang dipimpin oleh Sanghyang Anggalarang, perwakilan dari Kerajaan Parahyangan pimpinan Sanghyang Banyak Citra. Sang penguasa tanah Benteng membantu rombongan itu, bahkan diberikan hak untuk tinggal.

Sebidang tanah yang diberikan untuk ditempati itu letaknya di sebelah timur Sungai Cisadane. Daerah itu sekarang dikenal dengan nama Kampung Teluk Naga. Mereka diberikan kekebasan untuk menetap dan mencari sumber kehidupan.

Pada tahun 1500 sampai 1518, orang Tionghoa mulai muncul sebagai penguasa di Jawa yaitu Raden Patah. Dalam bahasa Mandarin ia bernama Jin Bun yang memiliki arti orang kuat.

Raden Patah memiliki darah Tionghoa dari ibunya. Ia merupakan pemimpin kelahiran Palembang, dikenal, karena berhasil mendidikan Kerajaan Demak, di Jawa Tengah. Kerajaan Islam pertama di Indonesia, dan Patah menjadi raja pertama.

Sejak saat itu, secara alamiah, warga Tionghoa yang telah migrasi, menyatu dengan warga lokal. Menjadi salah satu suku di Indonesia. Mendirikan tempat-tempat ibadah, di Lasem, Cirebon, dan daerah lain.

Mereka bahkan menjadi salah satu kelompok yang suka menentang kepemimpinan penjajah Belanda. Salah satunya di peristiwa Geger Pecinan yang terjadi dari 9 Oktober hingga 22 Oktober 1740.

Peristiwa pembantain Belanda di Batavia itu membuat masyarakat Tionghoa menyebar ke penjuru negeri. Bahkan yang pertama membentuk negara republik adalah masyarakat Tionghoa.

Mendirikan negara bernama Republik Lanfang, sekarang Kalimantan Barat, dengan ibu kota Dong Wan Li, sekarang Mandor . Presiden pertama negara itu adalah Low Lan Pak atau Luo Fangbo.

Hanya saja republik itu tak bertahan lama, karena Belanda membubarkan pada tahun 1884. Negara bentukan federasi kongsi Hakka itu dijadikan sebagai bagian dari wilayah Hindia Belanda.

Waktu yang terus berputar, masyarakat Tionghoa pun ikut berkembang di Indonesia. Menjadi bagian yang tak terpisahkan. Telibat langsung melawan para penjajah, untuk membebaskan Indonesia dari belenggu penindasan.

Kini Tionghoa di Indonesia menjadi salah satu suku resmi dengan perkiraan pemerintah mencapai 2,83 juta jiwa. Akan tetapi, menurut data Chinese Alliance, jumlahnya sekitar 7,67 juta. Mereka terdiri dari Tionghoa peranakan dan totok.