Kampung Sudiroprajan, Kawasan Etnis Tionghoa Pertama di Solo

Selasa, 13 Februari 2018 15:31:30
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Anak-anak peranakan Tionghoa di Kampung Sudiroprajan. (Istimewa)

KAMPUNG Sudiroprajan merupakan kawasan etnis Tionghoa pertama di Solo. Kebhinekaan tergambar di wilayah ini. Kamot ing sakaliring reh.

Kampung Sudiroprajan merupakan kawasan etnis Tionghoa pertama di Solo. Mereka telah tinggal di kawasan tersebut tak lama setelah perpindahan Kerajaan Mataram dari Kartasura ke Surakarta pada 1745. Kamot ing sakaliring reh (mampu semua ragam perbedaan) menandakan Kebhinekaan dan harmonisasi di wilayah tersebut.

Kini semua telah melebur menjadi bangsa Indonesia, meskipun tetap tampil dengan identitas pribadi yang saling menghormati. Mereka beranak-pinak dan berinteraksi dengan warga kampung di sekitarnya yang dihuni pribumi Jawa.

Warganya pun hidup berdampingan dan mengembangkan toleransi secara alami, tanpa rekayasa atau paksaan. Kerukunan bersama itu tercipta karena kesadaran sebagai sebuah komunitas masyarakat, mereka saling membutuhkan. Tak sedikit dari mereka yang kemudian melakukan perkawinan campur sehingga lahir keluarga-keluarga multietnis dan multibudaya dengan berbagai latar keyakinan yang dipeluk oleh masing-masing pribadinya.

Menurut  Tokoh Tionghoa Solo Sumartono Hadinoto, saat ini sulit mencari Tionghoa totok di wilayah tersebut. Hampir sebagian besar dari kami sudah merupakan keturunan campuran. Hasil dari menikah lintas etnis. “Saya sendiri ini sudah kategori babah, seorang dari etnis Tionghoa keturunan campuran dengan Jawa," ujar Sumartono.

Sumartono mengatakan, Sudiroprajan merupakan kawasan yang patut dijadikan contoh proses akulturasi harmonis yang alami itu. Dari sekitar 4.000 jiwa warganya, warga etnis Jawa hampir berimbang dengan warga dari etnis Tionghoa.

“Dari kawasan inilah lahir perpaduan dua budaya dalam rangkaian tradisi menyambut Imlek. Di antaranya sedekah bumi Buk Teko, ritual Umbul Mantram, dan Grebeg Sudiro,” papar Sumartono.

Di tegaskannya, di Sudiroprajan persoalan toleransi sudah selesai. Tidak ada sentimen Tionghoa-Jawa. Komunitas Tionghoa paling besar memang di Kampung Balong, namun sebenarnya juga ada kampung-kampung lain di Sudiroprajan, seperti Kampung Mijen, Kepanjen, Samakan.

Semua bisa menyatu harmonis dengan etnis lain. “Kalau ada peringatan Imlek begini, semua warga, termasuk yang non-Tionghoa, akan saling membantu," ungkap Sumartono.

Salah satu akulturasi yang layak dikedepankan sebagai contoh adalah Grebeg Sudiro, yang setiap tahun digelar untuk menyambut Imlek di Kelurahan Sudiroprajan. Tradisi grebeg, kita tahu adalah tradisi asli masyarakat Jawa yang digelar untuk menyambut peringatan hari besar.

“Karena Grebeg Sudiro digelar untuk menyambut Imlek, maka nuansa budaya dan tradisi Tionghoa lebih mendominasi,” tutup Sumartono.