Kisah Migrasi Tionghoa Jawa ke Suriname

2017-09-28 16:15:27
Editor : Azis Faradi | Sumber : Kknews
Ilsutrasi kisah keluarga Tionghoa Jawa yang migrasi ke Suriname. (Istimewa)

TAK banyak yang tahu bagaimana proses migrasi Tionghoa dari Jawa ke Suriname. Padahal jumlahnya termasuk besar, bahkan ada yang jadi presiden.

Bersamaan dengan pengiriman orang Jawa ke Suriname oleh Belanda. Memuat kisah migrasi warga Tionghoa, terutama bersuku Hakka, dari Indonesia ke negeri Amerika Latin, tepi selatan Samudera Atlantik.

Pada tahun 1853, orang Tionghoa pertama tiba di Sullivan, dibawa Belanda sebagai buruh kontrak. Sebanyak 18 orang, dibawa dari Jawa. Dari jumlah itu, hanya tersisa 11 orang, kemduian memilih tinggal di Suriname dan menjadi penduduk setempat.

Sejak saat itu, berdatangan gelombang orang Tionghoa dari negeri Panda, khususnya dari Guangdong, Fujian. Antara tahun 1858 sampai 1870. Beberapa di antara mereka datang sebagai pekerja, dan pedagang.

Jumlahnya terus meningkat secara bertahap. Kini dari total penduduk Suriname, sekitar 10 persen merupakan warga Tionghoa. Awalnya status politik warga Tionghoa sama dengan negara lain. Akan tetapi, mulai meningkat.

Terutama ketika Dexi Bauter, keturunan Tionghoa, menjadi presiden di negara tersebut. Mulai berlahan, mendapatkan pengakuan, bahkan negara ini merupakan yang pertama menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur.

Tahun 2003 menjadikan tahun baru Imlek sebagai salah satu kebudayaan Suriname. Bahasa Hakka, kebetulan Tionghoa yang tinggal di sana kebanyakan dari kelompok tersebut, menjadi salah satu bahasa resminya.

Kini status Tionghoa semakin kuat, setelah presiden kedua dari etnis Tionghoa berkuasa yaitu Desiré Delano Bouterse. Keturunan dari Guangdong.

Di Suriname terjadi pembauran antara Tionghoa Jawa dengan yang dari Tiongkok. Menjadi satu kesatuan, berdasarkan akar leluhurnya.