Kisah Toko Merah Saksi Bisu Derap Ekonomi di Pecinan Glodok

2017-09-26 14:11:51
Editor : Azis Faradi | Reporter : Oktaviani
Toko Merah di wilayah Pecinan Glodok, saksi bisu derap ekonomi pada zaman dahulu. (Istimewa)

DI balik bangunan Toko Merah, menyimpan sejuta kisah masa lalu. Menjadi saksi bisu derap ekonomi dan bisnis di Pecinan Glodok, Jakarta.

Jika kebetulan berkunjung ke Kawasan Wisata Kota Tua, Jakarta, kita akan mendapati bangunan mencolok di antara bangunan-bangunan tua yang mengapit. Namanya Toko Merah, saksi bisu ekonomi dan bisnis di Pecinan Glodok.

Kehadiran Toko Merah memiliki sejarah panjang hingga cerita mistis yang menyelimuti. Berganti pemilik dari Belanda, Tionghoa hingga pemerintah.

Toko Merah, merupakan rumah tinggal yang dibangun oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff pada tahun 1730. Waktu itu menjabat opperkopman VOC, kemudian menjadi Gubernur Jenderal dari 1743-1750.

Dahulu bangunan itu belum punya nama. Pada abad ke-19, dibeli oleh seorang pedagang berdarah Tionghoa. Namanya Oey Liauw Kong. Setelah berpindah kepemilikan, Oey Liauw Kong memberi nama Toko Merah pada bangunan itu.

Keberadaan Toko Merah menggambarkan dinamika bisnis di Batavia, sekarang Jakarta. Letaknya strategis, dekat dengan pusat pemerintahan, di tepi Kali Besar, urat nadi lalu lintas air di tengah kota.

Pada zamannya, Kali Besar merupakan wilayah hunian elit di Batavia, tempat tinggal orang-orang kaya dan para pejabat VOC.

Toko Merah adalah bangunan kembar, dua rumah di bawah satu atap dengan perpaduan arsitektur klasik Eropa dengan ornamen gaya Tiongkok.

toko merah saksi pecinan

Sesuai dengan namanya, Toko Merah memiliki dinding yang hampir semuanya berwarna merah. Tangganya unik, bergaya barok, satu-satunya di Jakarta, mungkin di Indonesia.

Tembok depan tak diplester, bata merah ditampilkan, diperkuat dengan cat warna merah hati. Ini menggambarkan unsur kehidupan warga Tionghoa dalam bangunan.

Hanya saja, di balik keanggunan Toko Merah di atas lahan seluas 2.455 meter persegi, menyimpan banyak cerita mengerikan. Di tempat ini sempat terjadi pembantaian etnis Tionghoa di Batavia.

Sungai di depan gedung menjadi pembuangan puluhan ribu mayat hingga airnya pun berubah menjadi merah. Toko Merah juga kerap dijadikan tempat penyiksaan gadis zaman dulu.

Maka tak heran warga sekitar dari dulu sampai sekarang lebih mengenalnya sebagai bangunan angker ketimbang sejuta kisah sejarah. Kadang, warga mendengar berbagai suara aneh saat malam tiba.

“Biasanya suara laki-laki dan wanita sedang berbicara dan tertawa. Kadang juga terdengar suara langkah kaki yang sedang berjalan” ujar Rahmat, petugas parkir di sekitar Toko Merah, kepada Indochinatown.com.

Sebagai salah satu bangunan tua di Jakarta, pada tahun 1993 menerima sertifikat Sadar Pemugaran. Itu setelah kepemilikan berganti-ganti. Kini di bawah pengelolaan Pemerintah Jakarta.

Bangunan itu di bawah pemerintah beralih fungsi pada 2012. Bukan lagi sebagai destinasi wisata. Dijadikan sebagai tempat konferensi, pameran, ataupun rapat para pejabat pemerintah.

“Sudah lama tidak dijadikan tempat wisata, sejak dua tahun lalu. Sekarang sering jadi tempat rapat para pejabat,” jelas Rahmat.

Meski tak lagi dikunjungi oleh wisatawan, masih kokohnya bangunan tersebut bukti nyata kepedulian terhadap peninggalan budaya dan sejarah di jantung ekonomi Indonesia.