Masjid Jami Angke, Saksi Bisu Perjuangan Pangeran Fatahillah dan Pengeran Tubagus Angke

2017-12-29 10:58:09
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Farid Hidayat
Masjid Jami Angke. (Istimewa)

TAK sekadar tempat beribadah, Masjid Jami Angke digunakan Pangeran Fatahilah dan Pengeran Tubagus Angke sebagai tempat mengatur strategi perang saat koloni

Masjid Jami Angke atau Masjid Al Anwar dibangun pada 26 Syaban 1174 Hijriah atau 1751 Masehi. Masjid ini digunakan Pangeran Fatahillah dan Pangeran Tubagus Angke sebagai tempat mengatur strategi perang melawan kolonial Belanda.

Di masjid yang berada di Jalan Tubagus Angke ini pula tempat pengemblengan pejuang Islam sekaligus menyiarkan Islam. “Masjid Jami Angke ini tidak terlepas dari perjuangan pendahulu dari zaman Pengeran Fatahillah dan Pangeran Tubagus Angke sendiri sampai ke akar turunan beliau,” kata Muhammad Abyan Abdillah, Ketua Bidang Sarana dan Prasarana Masjid Jami Angke.

Pada 1993, masjid yang didirikan oleh wanita muslim keturunan Tionghoa dari Tartar yang bersuamikan orang Banten, Tan Nio ini sudah menjadi cagar budaya.

“Dulu di sini bukan dari golongan muslim. Awalnya yang mendiami kampung angke ini dari Hindu Bali, kemudian muslim masuk menyebar dan membaur. Terakhir, suku Tionghoa masuk pada 1740. Sudah ada keanekaragaman suku di Angke,” kata Abyan.