Mencari Jejak Souw Beng Kong di Tengah Keganasan Zaman

2017-10-12 10:55:56
Editor : Azis Faradi | Reporter : Oktaviani
Makam Souw Beng Kong di tengah pemukiman kumuh di Jakarta. (Oktaviani)

UNTUK mencari jejak Sang Kapiten pertama Souw Beng Kong di tengah keganasan zaman, sangat sulit dilakukan. Bukti terakhir terpinggirkan oleh kehidupan.

Makam khas warga Tionghoa itu berada di tengah pemukiman padat penduduk. Terjepit oleh keganasan zaman, terutama oleh meningkatnya penduduk urban. Itu menyulitkan bagi siapa saja yang ingin mencari jejak Souw Beng Kong.

Akses satu-satunya ke makam itu adalah Gang Taruna di Jalan Pangeran Jayakarta. Gang selebar 1,5 meter itu dulu namanya Gang Souw Beng Kong. Untuk berkunjung ke sana, lebih mudah dengan berjalan kaki, jangankan mobil atau bajaj, motor saja sangat sulit melewati gang sempit dengan penduduk yang berjubel.

Jika tak jeli, maka sulit untuk menemukan makam Souw Beng Kong, Sang Kapiten pertama di Batavia. Memiliki pengaruh di Jakarta sampai Banten. Penandanya dari jalan raya hanya pelang lusuh di Jalan Gunung Sahari, tulisannya “Situs Makam Kuno Kapiten Souw Beng Kong.

Makam itu mulai terlupakan pada zaman Orde Baru, tak ada satupun yang mengingat, tempat istirahat Sang Kapiten. Kecuali kalangan tertentu yang masih peduli dengan Souw Beng Kong.

Tanah untuk makam itu merupakan milik Souw Beng Kong, perkebunan luas yang kini dijadikan sebagai milik bersama masyarakat Jakarta. Luas area makam semakin menyempit, termakan oleh bangunan-bangunan peradaban manusia.

Bahkan pagarnya kini menjadi tempat menjemur pakaian warga sekitarnya. Jemuran di pagar itu mengalahkan altar yang dilapisi dengan keramik dan nisan yang ditulis menggunakan bahasa Mandarin dan Belanda.

Akbar, salah satu warga yang tinggal di sekitar pemakaman, mengatakan, makan Souw Beng Kong mulai ramai dikunjungi kembali, terutama pada akhir pekan. Biasanya kalangan mahasiswa yang rela menelusuri gang sempit untuk mencari jejak Sang Kapiten.

“Biasanya mereka datang beramai-ramai, ziarah sekalian untuk tugas kuliah. Kalau hari-hari biasa sepi. Ramainya pada saat sembahyang Cheng Beng. Ada sesajen makanan juga,” ungkapnya kepada Indochinatown.com.

Pagar teralis makam, lanjutnya, dulunya dikunci dengan menggunakan gembok. Namun beberapa tahun belakangan dibuka dan warga bebas keluar masuk. “Kalau hari hujan kadang air tergenang di depan makam, tetapi ada pengurus yang khusus untuk membersihkan makam,” tuturnya.

Masyarakat sekitar pun menanggap makam itu biasa-biasa saja, tak seperti zaman ketika Souw Beng Kong masih hidup. Sangat dihormati dari Jakarta sampai Banten.

Makam Souw Beng Kong sudah beberapa kali mengalami pemugaran. Pertama dilakukan pada tahun 1909. Perbaikan makam dilakukan oleh Dewan Psir Tionghoa atau Kong Koan. Kemudian pada 1929 Dewan Perwakilan Masyarakat Tionghoa di bawah Majoor der Chineezen Khouw Kim An menyediakan dana untuk pemugaran.

Setelah itu, tak ada pemugaran atau perawatan terhadap makam itu. Yang ada, tanahnya mulai diambil oleh warga sekitar. Rezim Soeharto, membuat makam semakin tertelan oleh zaman, sunyi dalam keramaian.

Setelah Reformasi, perhatian terhadap makam itu muncul. Pada tahun 2006, kelompok yang mengaku sebagai keturunan Souw Beng Kong membeli tanah tempat makam itu, kemudian melakukan perbaikan.

Sekitar tahun 1960 sampai 1970, dari Jalan Pangeran Jayakarta, makam masih kelihatan, kini sudah terkubur oleh pemukiman warga. Padahal jaraknya dari muka gang sekitar 100 meter. Dulu, makam Souw Beng Kong ditemani tiga makam lainnya, tapi kini telah hilang jejaknya.

Perhatian makam Souw Beng Kong yang mendapatkan perhatian itu, perlahan menjadi tujuan wisata sejarah di Ibu Kota. Mulai ada yang mengurusnya yaitu Yayasan Souw Beng Kong. Akan tetapi, tetap tak mengubah, suasana kumuh di tempat itu.

Waktu tetap berjalan, menggilas peradaban sejarah, tanpa mempedulikan, itu bernilai sejarah atau tidak. Bahkan kebanyakan dari masyarakat, tak mengetahui, di dekat Kota Tua, ada makam orang penting, yang kini bersemayam dengan kesepian.

 

Souw Beng Kong, Sang Kapiten Pertama

Souw Beng Kong adalah kapiten pertama yang diangkat oleh Jan Pieterzoon Coen, perwakilan Pemerintah Hindia Belanda di Batavia, sekarang Jakarta, pada 11 Oktober 1619. Terlahir di Desa Tongan, Provinsi Hokkian, sekarang bernama Fujian pada tahun 1580.

Souw Beng Kong beranjak dewasa. Sebagai pemuda Tionghoa yang ulet dan piawai dalam urusan berniaga. Ia melintasi derasnya gelombang laut selatan. Perahu yang ditumpanginya mendarat di Pelabuhan Banten pada 1614.

Kepiawaiannya dalam manajemen dan menguasai para pedagang Tionghoa, membuatnya menjadi penanggung jawab ekspor impor rempah Banten di bawah kesultanan Banten saat itu. Souw Beng Kong bukan sembarang pemuda, ia juga terkenal sebagai ahli pertanian.

Di tanah Banten, ia dipercaya oleh kesultanan setempat sebagai salah satu rekanan dalam urusan perdagangan. Hubungan dengan pemerintah dan masyarakat setempat diakui. Ia dipandang sebagai salah satu pemimpin masyarakat Tionghoa.

Ketika Belanda datang ke Banten, pada tahun 1595, sebagai jalur baru dari Eropa ke Nusantara, dan memindahkan pusat perniagaan rempah-rempah dari Maluku ke Batavia. Maka para perwakilan Pemerintah VOC Hindia Belanda, tercengan melihat Souw Beng Kong.

Oleh karena itu, Belanda di bawah  Gubernur Jan Pieterszoon Coen mendekatinya dan meminta Shouw Beng Kong merayu penduduk Tionghoa untuk ikut pindah ke Jakarta.

Ia menerima tawaran tersebut dan lantas membawa sekitar 300 Tionghoa yang semula berniaga di Banten. Awalnya Souw Beng Kong sempat menolak, karena ia masih sangat dibutuhkan di Banten. Tapi akhirnya ia menerima tawaran itu, lantaran ada beberapa persoalan antara kerajaan Banten dan komunitas Tionghoa di sana. Saat itu, di Banten sedang terjadi paceklik berkepanjangan.

Pada 11 Oktober 1619, Souw Beng Kong diangkat pertama kali sebagai pemimping kelompok Tionghoa, karena mampu membawa dan mengatur etnis Tionghoa di Batavia. Di bawah komando Souw Beng Kong, bandar dagang Tionghoa yang berpusat di Loji Selatan (sekarang menjadi kawasan Kota Intan belakang Galangan VOC) maju pesat.

Souw Beng Kong menjadi Kapiten pertama di seluruh jajahan Hindia Belanda. Pasca gelar Kapiten itu, Belanda mulai berikan gelar serupa kepada etnis lainnya. Gelar kapiten merupakan adopsi dari era Portugis yang sebelumnya pernah menjajah negara Indonesia.

Souw Beng Kong juga menjadi kapiten terlama untuk golongan Tionghoa di Batavia. Jabatan itu ia sandang dalam enam periode gubernur VOC, dari era Coen, Pieter de Carpenter, JP Coen, Jacques Speck, Hendrik Brouwer, dan Antonio van Dieman.

Souw Beng Kong melepas jabatannya atas permintaan sendiri. Pada 3 Juli 1636, ia mengundurkan diri dan VOC lantas menunjuk Kapiten Lim Lak Tjo sebagai pengganti.

Kapiten Souw Beng Kong kemudian wafat pada 8 April 1644 pada usia 50 tahun. Souw Beng Kong diyakini meninggal dalam kondisi yang wajar karena termakan usia. Ia dimakamkan sebulan kemudian di perkebunannya yang sekarang bernama Gang Taruna.