Menelusuri Jejak Tjong A Fie

2017-11-24 14:38:50
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Oktaviani
Kediaman Tjong A Fie. (Istimewa)

TJONG A Fie merupakan Kapitan Tionghoa (Majoor der Chineezen). Untuk menelusuri jejak Tjong A Fie, berkunjunglah ke Bangunan Kediamannya.

Tjong A Fie, salah satu orang yang paling dihormati dan disegani di Kota Medan, Sumatera Utara. Untuk mengetahui jejak Tjong A Fie, Anda bisa mengunjungi kediaman Tjong A Fie yang berada di Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Medan.

Bangunan yang didirikan pada 1900 ini dibuka untuk umum pada 18 Juni 2009 untuk memperingati ulang tahun Tjong A Fie ke-150. Bangunan yang didesain dengan gaya arsitektur Tionghoa, Eropa, Melayu dan art deco ini telah menjadi objek wisata bersejarah sekaligus cagar budaya nasional yang berada di Kota Medan.

Kediaman yang berdiri di atas tanah seluas 6.000 meter persegi ini menyajikan secara kehidupan Tjong A Fie melalui foto, lukisan hingga perabotan rumah yang digunakan oleh keluarganya, sehingga pengunjung bisa mempelajari budaya Melayu-Tionghoa lebih dalam.

Siapakah Tjong A Fie?

Tjong A Fie mulai merantau ke Kota Medan pada 1875. Dia mencoba peruntungannya di dunia bisnis. Melalui tangan dinginnya dia berhasil menjalankan bisnis dan mempekerjakan sekira 10.000 karyawan. Kesuksesannya ini yang membawa dia dekat dengan kaum terpandang di Medan, seperti Sultan Deli, Makmun Al Rasjid serta pejabat kolonial Belanda.

Pada 1911, pria kelahiran 1860 ini diangkat sebagai Kapitan Tionghoa atau Majoor der Chineezen untuk memimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan kakaknya Tjong Yong Hian.

Sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa, dia sangat dihormati dan disegani, karena dia pun menguasai bidang ekonomi dan politik. Kerajaan bisnisnya meliputi perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api.

Tak sampai disitu, keturunan Hakka di Sungkow, Meixian, Guangdong, Tiongkok ini sangat berjasa membangun Kota Medan, yang dulu bernama Deli Tua.

Beberapa jasanya adalah menyumbangkan menara lonceng untuk Gedung Balai Kota Medan yang lama, pembangunan Istana Maimoon, Gereja Uskup Agung Sugiopranoto, Kuil Buddha di Brayan, Kuil Hindu untuk warga India, Batavia Bank, Deli Bank, Jembatan Kebijakan di Jalan Zainul Arifin serta rumah sakit Tionghoa pertama di Medan (Tjie On Jie Jan).

Tjong A Fie tutup usia pada 4 Februari 1921, karena menderita apopleksia atau pendarahan otak. Prosesi pemakamannya berlangsung dengan megah sesuai dengan tradisi dan jabatannya.