Menelusuri Sejarah dan Filosofi Kue Keranjang

Jumat, 16 Februari 2018 11:33:30
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Kue keranjang. (Istimewa)

KUE keranjang atau dodol cina merupakan ikon Imlek. Sebelum mencicipinya, ada baiknya kita menelusuri sejarah dan filosofi kue keranjang.

Hari raya Imlek tanpa kue ranjang? Sangatlah tidak mungkin. Kue keranjang atau kue tutun atau dodol cina merupakan ikon Imlek. Panganan wajib dalam perayaan Imlek. Bahkan, di Tiongkok saat Imlek terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar selalu beruntung dalam pekerjaan sepanjang tahun. Namun, agar menambah kenikmatan saat menyantapnya, ada baiknya kalau kita menelusuri sejarah dan filosofi kue keranjang.

Menurut riwayat dunia kuliner kue keranjang ---sering disingkat Kue ranjang--- yang disebut juga sebagai Nian Gao, ini dinamakan begitu, karena  nama dari wadah cetaknya  berbentuk keranjang. Kue ini sendiri bahannya terbuat dari tepung ketan dan gula.

Kalau disigi dari sejarahnya, pada zaman dahulu, rakyat Tiongkok percaya anglo (tempat masak) dalam dapur di setiap rumah ada dewa-nya yang dikirim oleh Yik Huang Shang Ti (Raja Surga). Dewa itu juga sering dikenal dengan sebutan Dewa Tungku, yang ditugaskan untuk mengawasi segala tindak tanduk dari setiap rumah dalam menyediakan masakan setiap hari.

Maka setiap akhir tahun tanggal 24 bulan 12 Imlek (atau h-6 tahun baru), Dewa Tungku akan pulang ke surga serta melaporkan tugasnya kepada Raja Surga. Maka untuk menghindarkan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi rakyat, timbullah gagasan untuk memberikan hidangan yang menyenangkan atau hal-hal yang dapat membuat Dewa Tungku tidak murka. Sehingga nantinya, Dewa tungku menyampaikan laporan yang baik-baik dari rakyat yang diawasinya.

Akhirnya, warga pun mencari bentuk sajian yang manis, yakni kue yang disajikan dalam keranjang. Maka disebutlah kue keranjang, yang sudah menjadi tradisi setiap tahun disajikan untuk merayakan tahun baru Imlek.

Dalam menyajikan kue untuk Dewa Tungku, kue keranjang yang manis tersebut, juga ditentukan bentuknya yakni harus bulat. Ada pun maknanya,  keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat berkumpul (minimal) satu tahun sekali, serta tetap menjadi keluarga yang bersatu, rukun, bulat tekad dalam menghadapi tahun baru yang akan datang.  

Tradisi ini pun dibawa terus secara turun temurun, sampai sekarang ini. Kue keranjang diproduksi di banyak kota, termasuk Tangerang, Bogor, Sukabumi,  Tegal, Yogyakarta, dan Pontianak.

Makna Filosofis

Kue keranjang memiliki nama asli Nian Gao atau Ni-Kwe yang disebut juga kue tahunan karena hanya dibuat setahun sekali pada masa menjelang tahun baru Imlek. Sedangkan dalam dialek Hokkian, ti kwe berarti kue manis, yang menyebabkan orang-orang tidak sulit menebak kalau kue ini rasanya manis.

Nian Gao, kata Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

Cara penyajiannya, kue yang terbuat dari beras ketan dan gula ini dapat disimpan lama, bahkan dengan dijemur dapat menjadi keras seperti batu dan awet. Sebelum menjadi keras kue tersebut dapat disajikan langsung, akan tetapi setelah keras dapat diolah terlebih dahulu dengan digoreng menggunakan tepung dan telur ayam dan disajikan hangat-hangat. Dapat pula dijadikan bubur dengan dikukus kemudian ditambahkan bumbu-bumbu kesukaan. Bila mulai ramai orang jualan  dan mengirim kue Ranjang berarti sebentar lagi hari Raya Imlek tiba.