Menelusuri Sejarah Kue Cakwe

Rabu, 14 Februari 2018 11:03:50
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Menelusuri sejarah kue cakwe. (Istimewa)

KUE Cakwe ternyata memiliki sejarah panjang. Ingin tahu lebih lanjut? Yuk kita menelusuri lebih dalam tentang sejarah cakwe.

Kue cakwe kerap dijadikan panganan untuk teman minum teh ataupun dijadikan irisan dalam bubur ayam ataupun bubur kacang hijau. Hal inilah yang kerap dilakukan masyarakat di beberapa wilayah di Jawa Tengah. Namun sayang, tak banyak yang tahu sejarah panganan masyarakat Tionghoa ini. Jangan hanya bisa menikmati saja, yuk kita menelusuri sejarah kue cakwe.

Kue ini ternyata mempunyai sejarah panjang. Adalah seorang jendral besat Yue Fei yang hidup di zaman Dinasti Sung Selatan (1103-1142). Kisah ini mengandung epik sejarah mendalam bagi masyarakat Tionghoa.

Jenderal Yue Fei yang ahli silat dan bijaksana itu konon dipunggungnya ditato oleh ibunya disaksikan istrinya. Yue Fei ditato empat huruf sakti, yaitu Jin Zhong Bao Guo, yang punya makna segenap hati setiap dan membela negara.

Menurut Ketua Boen Hian Tong Harjanto Halim, keberhasilan Jenderal Yue Fei menghancurkan serangan bala tentara dari utara harus berakhir. Dia difitnah oleh salah seorang menteri dari raja, yaitu Chin Kuai. Akibat fitnah yang menuduh Jenderal Yue Fei mau memberontak, Yue Fei dihukum mati oleh sang Raja.

Yue Fei dengan tegar menghadap Raja dan menerima hukuman dengan ikhlas. Lebih lanjut, Harjanto mengemukakan, masyarakat sedih, tetapi nama kebesaran Yue Fei tersebar di mana-mana. Biara-biara Yue Fei tersebar di negeri Tiongkok, terutama di daerah Han Chou, tempat biara Sang Pahlawan Yue Fei (Yue Huang Miao).

“Sebagai balasan terhadap menteri yang culas itu, rakyat ingin memprotes, tetapi tidak berani beraksi. Gantinya, mereka membuat kue cakwee (tjah kwee atau cakwe), makanan asal Tiongkok terbuat dari tepung terigu, ragi, soda, garam, dan ammonium bicarbonat. Adonan itu, kalau sudah mekar seperti tongkat, kadang dua tongkat dililitkan melingkar. Kue itu ibarat menteri culas itu, yang lalu dimakan oleh rakyat,” papar Harjanto dihadapan peserta Heritage Walk Jelajah Pecinan yang mapir di Gedung Rasa Dharma dan disuguhi kue Cakwe.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Kopi Semawis mengatakan sejarah ini contoh baik bagi rakyat yang tidak suka pejabat, sebaiknya jangan demo atau main merusak. “Bikin saja kue yang enak, ibarat menteri atau pejabat publik yang buruk, kue itu dinamai saja dan dimakan. Malah mengenyangkan,” ujarnya.