Mengenang 61 Tahun Romantisme Soekarno dan Mao Zedong

2017-10-13 10:17:17
Editor : Azis Faradi | Reporter : Oktaviani
Jamuan kepada Soekarno yang dilakukan oleh Mao Zedong pada 2 Oktober 1956. (Istimewa)

DUA pemimpin revolusioner bertemu 61 tahun yang lalu. Pertemuanyang hanya bisa dikenang itu menunjukan potret romantisme antara Soekarno dan Mao Zedong.

Soekarno, Presiden Indonesia, mendatangi karibnya yaitu Mao Zedong, pemimpin Tiongkok. Kunjungan kenegaraan yang berlangsung selama setengah bulan itu kini hanya bisa dikenang. Sebuah momentum romantisme dua pemimpin revolusioner di negara masing-masing.

Presiden Soekarno datang ke negeri Tirai Bambu pada 30 September sampai 15 Otktober 1956. Kunjungan kenegaraan itu merupakan undangan resmi dari Mao Zedong. Presiden perdana itu tiba di Peking, sekarang Bijing, Ibu Kota Tiongkok.

Disambut sebagai tamu kehormatan di lapangan udara setempat. Disambut barisan angkatan bersenjata, dari darat, laut dan udara. Sebagai sesama pemimpin pergerakan, pertemuan itu cukup menarik perhatian dunia.

Pada hari itu, Soekarno bersama rombongan mendapatkan jamuan dari para pemimpin Tiongkok. Layaknya tamu istimewa, menikmati sajian, sambil tertawa.

Keesokan harinya, pada 1 Oktober 1956, Soekarno dan Mao menghadiri perayaan Hari Nasional ke-7 atau bertepatan dengan kelahiran Republik Rakyat Tiongkok. Bung Karno bersama Mao berdiri di presidium Tien An Men, sembari menyaksikan parade Tentara Pembebasan Rakyat dan pawai.

Setelah itu, pada 2 Oktober, Mao Zedong mengadakan jamuan khusus untuk Sang Proklamator. Sekaligus memantau misi Parlemen Indonesia di Beijing. Dalam pertemuan itu Soekarno juga membawa pimpinan Kesenian Tari Bali, sebagai simbol persahabatan dua negara.

Soekarno juga disambut masyarakat di Tiongkok bak pemimpinnya sendiri. Itu terlihat dalam rapat raksasa pada 3 Oktober 1956.

Soekarno berdiri di hadapan 30 ribu penduduk Tiongkok. Bung Karno yang sudah terbiasa di atas podium, mengajak warga mengangkat tangan sambil teriak “Merdeka” sebanyak lima kali.

“Tidak ada satu manusia dapat menghalang-halangi matinya kolonialisme. Suatu hari akan datang kolonialisme akan mati sama sekali, imperialisme pasti akan mati sama sekali,” pidato Bung Karno pada kesempatan itu.

Tak hanya Mao yang menjamu Soekarno, juga sebaliknya. Bertepatan dengan ulang tahun ke-11 Angkatan Perang Indonesia, sekarang TNI, Bung Karno mengundang Mao datang ke Hotel Peking, lalu dijamu, dan menyematkan kembang di dada Sang Bapak Revolusioner Tiongkok.

Setelah 6 hari di Beijing, Soekarno melanjutkan perjalanan mengelilingi negeri Panda, ke arah timur, tengah, dan selatan. Ke Shengyang, Changchun, Nanjjing dan wilayah lainnya. Keberangkatan Bung Karno itu dilepas Mao di Beijing pada 6 Oktober 1956.

Kehadiran Soekarno di Tiongkok, meninggalkan jejak politik hingga seni. Selain mengenalkan tarian Bali, juga beberapa lagu daerah. Sebut saja “Ayo Mama” lagu dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Lagu itu bahkan dibuat jadi salah satu bahan ajar kesenian di sekolah-sekolah dasar Tiongkok.

Mao Zedong merasa cocok dengan lagu “Ayo Mama”. Lagu lain yang menarik perhatian Mao adalah lirik dari “Bengawan Solo”. Bahkan lagu ini pernah dibawakan Mao bersama para pejuang ketika bergriliya di hutan Yenan.

Itulah potret kemesraan dua Bapak Republik, yang memiliki pemikiran dan paham sama. Peristiwa itu terjadi 61 tahun yang lalu. Namun masih dikenang masyarakat kedua negara, sebagai salah satu tonggak hubungan yang membuat makin erat.