Mengenang Sejarah Kelam Geger Pecinan

2017-10-11 14:14:45
Editor : Azis Faradi | Reporter : CHC Saputro
Ilustrasi peristiwa sejarah kelam pembantaian Tionghoa ddan dikenal sebagai peristiwa Geger Pecinan. (Istimewa)

DALAM sejarah, terjadi periwtiwa kelam, pembantaian etnis Tionghoa di Batavia. Peristiwa memilukan itu kini dikenal dengan istilah Geger Pecinan.

Sejarah mencatat pada 9 Oktober 1740, huru-hara besar melanda kota Batavia, sekarang Jakarta. Peristiwa kelam itu dikenal dengan sebutan Geger Pecinan. Lebih dari 10.000 ribu warga Tionghoa meninggal dibantai VOC, Belanda.

Geger Pecinan, peristiwa yang mewaskan ribuan warga Tionghoa dari 9 Oktober hingga 22 Oktober 1740. Pemicunya adalah meroketnya harga gula, dan buruh melimpah. Kebanyakan dari mereka yang terlibat warga Tionghoa sekitar.

Gubernur Jendral  VOC Adriaan Vaclkeiner, mengambil keputusan untuk mengurangi populasi orang Tionghoa. Mereka mengirim ke Sri Langka untuk menjadi tenaga pembuatan benteng VOC, juga ke Tanjung Harapan di Afrika.

Pada waktu itu, ada desas-desus alias kabar angin, kalau orang-orang Tionghoa, bukan dikirim ke Srilangka atau ke Tanjung Harapan, tetapi dibunuh dan ditenggelamkan ke laut.

G Benhard Schwarzen, salah satu pelakuk sejarah, berkisah dalam bukunya Reise in Ost Indien (1751).Konon, dalam catatannya dituliskan geger dan pembantian baru empat hari kemudian berhenti. “Seluruh jalanan, gang-gang dan kanal penuh dengan mayat,” tulisnya.

Sejarawan pemerhati peranakan Tionghoa Mona Lohanda dalam bukunya Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia, kerusuhan yang terjadi di Batavia, akhirnya meluas hingga ke Jawa.

Sejarah kelam tragedi pembantaian orang Tionghoa itu tak hanya berdampak dengan kehidupan di Batavia. Tetapi juga menggangu kestabilan politik di Kerajaan Mataram. Geger Pecinan meluas hingga Jawa Tengah dan pesisir utara Jawa.

Perlawanan tak terhindarkan. Akibat Geger Pecinan itu juga membuat beberapa warga Tionghoa memilih keluar dari Batavia. Menyebar ke berbagai daerah, termasuk ke Bogor, Jawa Barat. Kini peristiwa itu tetap dikenang sebagai pembantaian sadis di ibu kota.