Menguak Misteri Goa Tan Tik Siou Tulungagung

Senin, 29 Januari 2018 11:53:47
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Goa Tan Tik Siou. (Istimewa)

TAN Tik Siou dikenal sebagai tabib dan sastrawan. Namun keberadaannya menjadi misteri. Kunjungi Goa Tan Sik Siou untuk menguak jejaknya.

Di Kabupaten Tulungagung terdapat destinasi wisata yang cukup populer. Goa Tan Tik Siou nama objek wisata tersebut. Goa yang berlokasi di Desa Sumberagung, Rejotangan, Tulungagung ini dapat membantu menguak misteri keberadaan Tan Tik Siou. Konon Tan Tik Siou dikenal sebagai tabib dan juga sastrawan.

Ketika Anda memasuki kawasan Goa Tan Tik Sioe akan dijumpai dua buah pohon asam yang sangat besar. Di sebelah luar dari pintu goa, tanahnya sangat tandus dan kondisi pintu gerbang kedua goa ini sudah rusak. Yang memprihatinkan kerusakan ini disebabkan oleh perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Memasuki goa, akan ada dua pintu gerbang. Pintu gerbang tersebut terdiri dari dua lapisan. Lapisan pertama berupa tembok yang lumayan panjang kurang lebih sekitar 15 m. Di sekitar lapisan yang pertama ini terdapat fasilitas tempat duduk beratapkan sebuah bangunan berupa payung. Lapisan kedua juga berupa tembok. Warnanya merah, keadaannya tak jauh beda dengan yang pertama tadi.

Halaman utama Goa Tan Tik Siou berada pada lapisan yang kedua ini. Di lokasi ini terdapat sebuah jalur kecil berupa sebuah lubang yang dapat dilalui dengan cara merunduk. Disini pula terdapat ukiran-ukiran dan miniatur khas perkampungan Tiongkok dengan warna-warna yang mencolok seperti merah, kuning, biru, dan lain-lain.

Miniatur ini dibuat olehTan Tik Siou untuk mengenang kampung halamannya di Hokkian, Tiongkok. Ada hal menarik di belakang tembok ini. Anda akan menemukan kata-kata seperti ini: Toenggang Kerbowmoe Hiduoow Itoe Atie-atie, Zonder Sabaar, Tidak Kamilikan, Djangan Moorkah, Zonder Doewet, Djaoeh Familimoe, Tidak Anak dan Binie, Djangan Doestak, Tidak Bohong, Zonder Obroll, Djangan Poerak-poerak dan Tidak Tjerewet.

Semua kata-kata di atas memiliki arti sendiri-sendiri. Seperti kata Djangan Doestak dan Tidak Bohong. Keduanya bermakna sama. Kata tersebut mengacu pada sebuah saran agar tidak melakukan perbuatan salah yaitu berbohong. Kemudian kata Tidak Tjerewet artinya tidak boleh banyak omong.

Di halaman utama goa, banyak sekali dedaunan kering yang jatuh. Nampak sekali goa ini sangat tidak dirawat. Memasuki gerbang kedua, sobat akan menemukan sebuah mata air di bawah pepohonan bambu kuning. Mata air ini sudah ada sejak lama, bahkan bagi sebagian orang gentong yang berada di depan mata air digunakan sebagai ritual tertentu.

Terdapat dua buah patung harimau di halaman utama. Dipercaya sebagai hewan peliharaanTan Tik Siou. Patung ini tepat berada di depan pintu masuk gerbang goa. Kedua patung ini adalah jantan dan betina. Patung yang berdiri adalah jantan sedang yang selonjor adalah betina. Disisi sebelah barat terdapat juga sebuah patung harimau putih tambahan. Disebelah patung ini terdapat bangunan kecil yang digunakan untuk bermalam di Tan Tik Siou. Bangunan ini dapat dipakai sebagai dapur untuk memasak.

Goa Tan Tik Siou memiliki tiga pintu, di jalan yang tengah merupakan pintu masuk utama yang langsung berhubungan dengan ruang utama. Dahulunya merupakan ruang pribadi Tan Tik Siou, untuk memasuki sisi goa, pengunjung harus masuk dengan cara merunduk atau merangkak. Hal ini disebabkan oleh desain pintu masuk yang berbentuk oval dengan ukuran yang cukup sangat kecil. Dalam ruang ini terdapat alat-alat persembahyangan khas etnis Tionghoa dan foto-foto dari Tan Tik Siou.

Pintu ke dua berada di sisi kanan pintu utama, yang terhubung dengan ruangan yang cukup luas, dalam ruangan ini terdapat dua tiang penyangga berwarna merah. Di bagian ujung ruangan terdapat tempat pemujaan untuk Dewi Kwan Im dalam keadaan bersila dengan tangan kanan diangkat menghadap ke depan setinggi bahu. Dewi Kwan Im adalah dewi welas asih atau dewi kasih sayang. Dan ruangan ini juga bernuansa gelap karena sedikit sekali cahaya yang masuk.

Ruangan dalam goa ini saling terhubung satu sama lain, maka ruangan Dewi Kwan Im ini juga terhubung dengan ruang utama dan ruang-ruang lain. Di bagian tengah goa terdapat ruang untuk pemujaan Kwan Kong, yang digambarkan sebagai seorang panglima perang yang sedang menunggangi kuda. Ruangan ini lebih sempit dan lebih gelap dari ruangan yang lain.

Ruang berikutnya adalah ruang pemujaan Dewa Dapur, ruangan ini cukup luas dan cukup mendapat cahaya. Hal ini dikarenakan letak pintu ke tiga berada di ruangan ini. Tepat setelah keluar dari goa melalui pintu ketiga terdapat sebuah miniatur pagoda dengan dominasi warna merah, dan disisi kanan pintu ketiga terdapat simbol jangkar yang berwarna merah. Tepat di samping kanan simbol jangkar merah tersebut terdapat semacam sumur yang bertuliskan Pangleboeran Kitah, di dalamnya terdapat abu bekas pembakaran kertas.

Di belakang miniatur pagoda, terdapat tangga yang menuju ke bagian atas dari Goa Tan Tik Sioe. Dari bagian ini dapat dilihat bahwa bentuk Goa Tan Tik Sioe mirip dengan mangkuk yang terbalik. Di bagian atap goa juga terdapat patung seekor bangau putih, dalam ajaran Tao, bangau putih merupakan tunggangan seorang berilmu. Tao putih yang menuju ke langit, selain itu bangau putih dalam Taoisme juga bermakna perhatian, kepatuhan, dan kasih sayang. Hal tersebut berkaitan erat denganTan Tik Sioe yang juga mempelajari Taoisme.

Dapat diketahui bahwa Goa Tan Tik Sioe bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal bagi Tan Tik Sioe di masa lalu, goa ini juga menjadi klenteng atau tempat peribadatan bagi orang Tionghoa. Hal tersebut dapat diketahui karena terdapatnya warna khas tempat peribadatan orang Tionghoa, yaitu merah dan kuning. Selain itu dikarenakan adanya ruangan-ruangan yang digunakan untuk pemujaan kepada dewa-dewa.