Penggalan Kisah Oei Tiong Ham Dan Istana Pamularsih

Kamis, 05 April 2018 13:43:37
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : CHC Saputro
Istana Pamularsih milik Oei Tiong Ham (Istimewa)

Dibesarkan di Istana Pamularsih, Oei Tiong Ham kemudian menjadikan tempat tinggal prestisiusnya tersebut, untuk mengawasi aktivitas kapal dagang miliknya.

SEMARANG – Menyebut nama Oei Tiong Ham, hal pertama yang terlintas di benak kita adalah, konglomerat pertama di Asia Tenggara.  Rentang panjang bisnis yang dikelolanya di Asia Tenggara hingga Eropa, menjadikannya memiliki kekayaan berlimpah. Namun, tahukah jika semua kekayaan itu berpangkal dari sebuah rumah yang bisa disebut sebagai Istana Pamularsih yang terletak di Semarang, Jawa Tengah?

Dijuluki Raja Gula dan Raja Candu dari Semarang, jejak Oei Tiong Ham bisa dilihat dimana-mana. Di Singapura misalnya, ada gedung megah dan nama jalan yang menggunakan namanya. Di Indonesia, yang paling ikonik adalah Istana Oei Tiong Ham atau Bernic Castle. Padahal, ada satu lagi bangunan yang justru berpengaruh besar dalam kehidupan Oei Tiong Ham, yakni Istana Pamularsih yang terletak di daerah Bongsari, Jalan Pamularsih Dalam I.

Budayawan Tionghoa Jongki Tio mengatakan, bangunan berlantai dua dengan pondasi khas bangunan zaman kolonial tersebut, mewarnai sebagian besar kehidupan Oei Tiong Ham. Awalnya, bangunan tersebut satu area dengan Klenteng Sam Poo Kong, milik taipan bernama Johanes.

“Dulu pada abad ke-18, Semarang memiliki beberapa taipan, seperti Tasripin yang wrga pribumi, Oei Tjie Sien (ayah Oei Tiong Ham), serta Johanes (Yahudi). Nah, Istana Pamularsih sampai Klenteng Sam Poo Kong itu milik Johanes, lalu dibeli oleh Oei Tjie Sien. Makanya, struktur bangunannya aneh, milik orang Tionghoa tapi tidak ada ciri khas Tionghoa,” paparnya.

Oei Tiong Ham banyak menghabiskan waktu dari kecil hingga mewariskan bisnis pedagangan, farmasi, gula hingga candu ayahnya di Istana Pamularsih. Dari bagian atas gedung, Oei Tiong Ham sering memantau kapal-kapal dagang miliknya saat bersandar dan bongkar muat di Pelabuhan Semarang, atau kapal yang tengah menunggu antrian di pesisir pantai Semarang “Di atas pemandangannya indah sekali, dimana Oei Tiong Ham memantau dan melihat kapal dagangnya keluar masuk Pelabuhan Semarang,” tukas Jongki Tio yang pernah bertandang ke Istana Pamularsih.

Selain Istana Pamularsih, Oei Tiong Ham juga membuka lahan baru untuk perumahan, dimana saat ini lokasinya berada di Jalan Gajahmada, Pandanaran, hingga Gergaji dimana terdapat Istana Gergaji yang juga miliki Oei Tiong Ham. Di kemudian hari, lahan serta kawasan baru yang dibuka Oei Tiong Ham inilah yang mejadi jalan protokol di Kota Semarang.

Akibat nasionalisasi aset Oei Tiong Ham pada tahun 1961, seluruh bangunan dan tanah miliknya diambil negara, termasuk Istana Pamularsih. Kini, bangunan berukuran sekira 15x20 meter tersebut terlihat kumuh. Bahkan, pilar di bagian selatan sudah roboh. Ironisnya lagi, bagian dalam dijadikan tempat tinggal ‘ala kadarnya’ dengan sekat-sekat untuk sembilan kepala keluarga (KK).