Peristiwa Rengasdengklok dan Rumah Petani Orang Tionghoa

2017-08-11 11:01:37
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Rumah Djiaw Kie Siong di Karawang saksi Peristiwa Rengasdengklok. Rumah petani milik orang Tionghoa itu menjadi tempat bersejarah Bangsa Indonesia. (Istimewa)

PERISTIWA Rengasdengklok merupakan sejarah penting bagi Bangsa Indonesia. Sejarah penting itu terjadi di rumah petani milik orang Tionghoa.

Pada Kamis, 16 Agustus 1945, dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB, rombongan kelompok pemuda dari Menteng 31, tiba di rumah petani milik orang Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong. Di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sejarah mencatat sebagai Peristiwa Rengasdengklok.

Rombongan yang dimotori oleh Soekarni, Wikana, Aidit, Chaerul Saleh, dan Adam Malik itu membawa Soekarno beserta Mohammad Hatta. Rumah di Dusun Bojong, Rengasdengklok ini, Soekarno dan Hatta didesak untuk memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia.

Tarik-menarik dengan kelompok Menteng 31 terjadi dengan dua tokoh yang diculik: Soekarno-Hatta. Setelah adu argumen, akhirnya Sang Proklamator kalah, dan memenuhi permintaan kelompok muda.

Pada hari itu juga, teks proklamasi dibuat dengan tulisan tangan, dan rencananya akan dibacakan oleh Stephen Tjandra bersama Bung Hatta. Bendera Indonesia di desa itu telah dikibarkan sejak Rabu, 15 Agustus 1945.

teks proklamasi

Kamis sore, Ahamad Subardjo, salah satu perwakilan kelompok tua yang menginginkan kemerdekaan melalui perundingan dengan Jepang, datang ke Rengasdengklok. Menjemput Bung Karno dan Hatta.

Subardjo mengajak supaya balik ke Jakarta dan membacakan proklamasi. Setelah berunding, akhirnya Soekarno berhasil dibujuk ke Jakarta, bersama juga Hatta, Guntur Soekarno Putra, Fatmawati, Yusuf Kunto, dr. Sutjipto, dan Sukarni.

Setiba di Jakarta, pembacaan proklamasi masih menjadi perdebatan, antara Lapangan Ikada—sekarang Lapangan Monas—atau di halaman rumah Soekarno. Berada di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.

Setelah mempertimbangkan keamanan, akhirnya pembacaan proklamasi dilakukan pada 17 Agustus 1945 di rumah Soekarno. Tek yang ditulis di rumah Djiaw Kie Siong, pun ditulis ulang menggunakan mesin tik oleh Sayuti Melik. Menggunakan mesin pinjaman dari kantor Mayor Hermann Kandeler, Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman.

peristiwa rengasdengklok orang tionghoa

Peristiwa ‘penculikan’ Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, merupakan upaya mempercepat proklamasi, karena Jepang sudah mengalami kekalahan dalam Perang Asia Pasifik. Awalnya, tokoh tua, termasuk Soekarno-Hatta, menginginkan kemerdekaan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Akan tetapi, badan ini tak dipercaya, karena ada keterlibatan penjajah saat itu: Jepang. Sehingga akan susah untuk mencapai kemerdekaan bila tetap memilih jalan melalui perundingan di PPKI. Setelah pembacaan proklamasi, pada 18 Agustus, PPKI menetapkan Undang Undang Dasar 1945, atau konstitusi negara.

Palemen juga terbentuk, dan memutuskan, Soekarno dan Hatta, masing-masing sebagai Presiden serta Waki Presiden Indonesia.

Setelah pemerintahan terbentuk, dan terus berkembang melewati periode zaman, rumah Djiaw Kie Siong tetap berdiri kokoh di tengah pemukiman warga. Berdiri dengan kesunyian, sebagai saksi sejarah yang tak dapat dilupakan.