Sejarah Dewa Bumi, Sang Pemberi Kesejahteraan

2017-10-05 16:25:47
Editor : Azis Faradi | Reporter : Oktaviani
Hok Tek Ceng Sin, dalam sejarah sebelum menjadi Dewa Bumi, pemberi kesejahteraan, dulu manusia biasa yang punya jabatan sebagai menteri. (Istimewa)

DALAM sejarah, sebelum menjadi Dewa Bumi, sang pemberi kesejahteraan ini awalnya merupakan manusia biasa. Semasa hidup dikenal sebagai pejabat pemerintah.

Dahulu Dewa Bumi adalah pejabat pemerintahan di masa Dinasti Chao. Dalam sejarah, namanya Thio Hok Tek Ceng Sin, lahir pada 1134 Sebelum Masehi. Setelah mangkat dan menjelma jadi dewa, dikenal sebagai sang pemberi kesejahteraan.

Di bawah Kaisar Chao Bu Ong, ia dikenal sebagai sosok yang pandai, bijaksana dan berhati mulia. Tugasnya sebagai Menteri Urusan Pajak, tak pernah memberatkan rakyat Tiongkok. Sebagai imbalannya, masyarakat sangat menghormati sosok Thio Hok Tek.

Di bawah kendalinya, pajak rakyat untuk negara benar-benar digunakan untuk kesejahteraan. Sebagai manusia biasa, ia mangkat dari kehidupan dunia, saat itu berusia 102 tahun. Kaisar lalu menunjuk pengganti.

Ternyata Menteri Urusan Pajak yang baru memiliki watak kejam. Senang bertindak kasar ketika menarik pajak. Sifat buruk itu membuat rakyat menderita, bahkan ada yang memutuskan pindah kampung halaman.

Dalam keadaan penuh tekanan dari pejabat pemerintah, rakyat kangen dan mendambakan menteri seperti Thio Hok Tek. Selalu bijak dana welas asih. Kehidupan penuh tekanan dan kebimbangan, lantas menguatkan ingatan rakyat tentang menteri sebelumnya yang telah meninggal dunia.

Ketika rasa rindu rakyat memuncak, maka mulai memberikan gelar baru sebagai Hok Tek Ceng Sin, atau Dewa Bumi. Rakyat mulai mengadakan sembahyang, dan rutin mengadakan sejit, atau peringati ulang tahun Sang Dewa.

Masih menurut cerita, ada satu keluarga miskin yang mendambakan Hok Tek Ceng Sin kembali memimpin seperti semula. Kehidupan penuh dengan kedamaian dan makmur. Kemudian dengan cara yang sederhana, ia mengambil empat buah batu bata untuk membuat sebuah rumah-rumahan kecil.

Satu menjadi tembok dan satunya lagi untuk atap. Lalu membuat tulisan Hok Tek Ceng Sin yang diletakkan di dalamnya. Orang itu mengambil pecahan tempayan untuk tempat dupa. Setiap pagi dan sore keluarga itu sembahyang memohon kepada Hok Tek Ceng Sin.

Berkat permohonan dan ketulusan hatinya, tanaman padi dan palawija di desa itu menjadi berkah. Hewan ternak bekembang semakin banyak. Panenpun membanjir. Orang-orang desa pun percaya itu berkat kemuliaan Hok Tek Ceng Sin senantiasa terlindungi dan mendapat berkah.

Akhirnya mereka semua sepakat untuk membangun klenteng sebagai tanda terima kasih atas kebaikan Hok Tek Ceng Sin.

Menurut Suhu Buntoro, pendiri Sanggar Budi Dharma, masyarakat Tionghoa mempercayai bahwa Dewa Bumi dapat mendatangkan kesejahteraan. Meski demikian, semua tergantung dari pribadi masing-masing.

“Ada karma atas perbuatan yang dilakukan. Hukum tabur tuai. Jika ingin mendapatkan kebaikan, maka kita juga harus memiliki rasa welas asih dan cinta kasih kepada sesama,” ujarnya.

Dewa Hok Tek Ceng Sin, sambungnya, digambarkan dengan sosok orang yang sudah tua, memilki rambut dan jenggot putih dengan wajah selalu tersenyum. Memegang sebongkah emas di tangan kiri dan tongkat naga di tangan kanan.