Situs Muaro Jambi, Pusat Pendidikan Agama Budha yang Karam

2017-11-06 11:12:40
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Situs Muaro Jambi, Pusat Pendidikan Agama Budha. (Istimewa)

SITUS Muaro Jambi merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Tak hanya sebagai tempat ibadah, situs ini merupakan pusat pendidikan agama Budha.

Situs Muaro Jambi konon disebut sebagai kompleks percandian terbesar di Asia.. situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Tak hanya dikenal sebagai tempat ibadah, pemukiman ini juga diprediksi sebagai pusat pendidikan (universitas) agama Budha.

Kompleks Percandian Muaro Jambi  jaraknya sekira 33 kilometer dari pusat kota Jambi. Selain melalui jalan darat  untuk menuju ke kompleks Percandian Muaro Jambi juga dapat ditempuh melalui jalur sungai dengan mengarungi sungai Batanghari dengan jarak tempuh sekitar 1,5 Jam.

Jejak Rekam Sejarah

Menurut data yang yang diperoleh  Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi, informasi tertua yang berhubungan dengan daerah Jambi ditemukan pada Naskah Berita Dinasti Tang (618-906 M), yang menyebutkan kedatangan utusan Kerajaan Mo-lo-yeu ke Cina pada 644 M dan 645 M.

Begitu pentingnya Negeri Mo-lo-yue, sehingga seorang pendeta I-Tsing menyempatkan singgah selama 2 bulan untuk memperdalam agama sebelum melanjutkan perjalanannya ke India.

Ketika beliau kembali dari India dikatakan Mo-lo-yue pada 692 telah menjadi bagian Shih-li-fo-shih (Sriwijaya). Suatu keadaan yang ditafsirkan terkait erat dengan Prasasti Karangbrahi (686 M) yang ditemukan di wilayah Jambi hulu.

Konon nama Jambi sendiri disigi dari berita Cina pada 853 dan 871 yang  menyebut kedatangan misi dagang dari Chan-pi atau Pi-chan. Berita Dinasti Sung (960-1279 M) menyebutkan bahwa Chan-pi merupakan tempat bersemayamnya Maharaja San-fo-tsi (Sriwijaya), rakyatnya tinggal pada rumah-rumah panggung di tepi sungai. Raja dan para pejabatnya bermukim di daratan.

Sekitar awal abad ke-11 Masehi Chan-pi menobatkan raja di negerinya sendiri dan mengirim utusan ke Cina pada 1079, 1082, serta 1088 M sebagai pemberitahuan bahwa Chan-pi telah menjadi negeri yang berdaulat.

Kemudian nama Melayu kembali muncul pada abad ke-13 Masehi dalam Kitab Pararaton dan Nagarakertagama yang menyebutkan bahwa Raja Singhasari (Singasari) bernama Kertanagara mengirimkan Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 M.  

Ekspedisi ini bertujuan untuk menjalin pertahanan bilateral antara Singhasari dan Melayu melawan serangan Mongol. Dalam Kitab Nagarakertagama nama Melayu juga disebutkan sebagai sebuah region di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 Masehi.

Universitas Tertua

Menurut  pembimbing  Tim  Sudimuja ( Swarna Dwipha Muara Jambi) Sudhamek AWS berdasarkan genealogi ‘universitas’ sebagai kumpulan guru dan siswa ilmuwan, sejak universitas pertama di China dan di Nalanda, India, abad ke-5, diikuti universitas modern di Bologna, Italia, abad ke-11, diperkirakan situs purbakala Muaro Jambi di Sumatera, paling tidak pada awal abad ke-7, juga sudah merupakan kompleks pusat pembelajaran yang ternama.

Di kompleks Candi Muaro Jambi di pinggiran Sungai Batanghari, disigi telah berkembang tradisi sebuah universitas. Berdasarkan catatan dan peninggalan yang ada, diperkirakan Muaro Jambi merupakan pusat pembelajaran sejak abad ke-7 hingga abad ke-11. Dengan demikian, praksis pendidikan di sana bisa dikatakan sebagai universitas tertua di Indonesia.

Dari bukti tulisan-tulisan dan peninggalan arkeologi yang ada, tampak jelas adanya pengaruh institusi yang serupa, terutama Sanghrama Nalanda, terhadap perkembangan Muaro Jambi sebagai kompleks pusat pembelajaran atau universitas. Kedekatan hubungan antara Sriwijaya dan Nalanda (India), antara lain, tercatat dalam ”Nalanda Copperplate” (860) yang menyebutkan Raja Balaputradewa dari Sriwijaya membangun wihara di Nalanda serta diberi oleh penguasa di sana lima desa. Hasil dari ke-5 desa tersebut digunakan untuk pemeliharaan wihara dan membiayai para siswa di sana.

Dimulai dari kedatangan I-Tsing yang pertama pada abad ke-7, proses pembelajaran di sana diperkirakan berlangsung paling tidak selama 400 tahun lebih dengan pulangnya seorang terpelajar dari India, Dipamkara Srijnana, pada tahun 1025 setelah selama 12 tahun belajar di Muaro Jambi.

Menurut temuan tim Sudimuja, Sanghrama (Universitas) Mahawihara Nalanda berkembang dari fokus ‘belajar untuk bhakti’ menjadi ‘belajar untuk pengetahuan.’ Raja-raja dinasti Gupta yang membangun Nalanda bukanlah Buddhis, melainkan penganut Hindu Brahmam sehingga Sanghrama dikembangkan bukan dari sudut keagamaan, melainkan demi mendorong dan mendukung sistem pembelajaran, pendidikan, dan kebudayaan bagi kepentingan masyarakat.

Hal yang sama diberlakukan dalam praksis pendidikan di Muaro Jambi. Bahasa Sanskerta menjadi bahasa pengantar, seperti ditunjukkan oleh Prasasti Talang Tuo (684) bahwa pada abad ke-7 M, Sriwijaya mengikuti cara pandang Mahayana, dan menurut I-Tsing, beliau pun belajar tata bahasa Sanskerta di Fo-shih.

Biara-biara yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi bhikshu berkembang menjadi pusat-pusat belajar umum yang juga terbuka untuk awam. ”Saat itu di Sriwijaya ada ribuan bhikshu yang tekun belajar dan beribadah. Mereka tinggal di kawasan yang berpagar tembok,”  tulis I-Tsing.

Selain I-Tsing, tercatat pula banyak peziarah lain, seperti Wu-Hing, yang pernah belajar beberapa lama di Sriwijaya (Muaro Jambi) sebagai persiapan belajar di Nalanda. Sebaliknya juga banyak bhikshu India yang belajar beberapa tahun di Muaro Jambi, kemudian kembali ke India untuk mengajar, seperti Dipamkara Srijnana, Sakyakirti, Vajrabodhi, dan Amogavajra. Sebaliknya, banyak guru dan siswa Muaro Jambi juga belajar di Nalanda.

Dari serangkaian bukunya, antara lain I-Tsing menulis tentang apa yang ia temukan di Fo-shih. Saat itu ada ribuan bhikshu yang tekun belajar dan beribadah. Mereka tinggal di kawasan yang bertembok. Mereka mempelajari semua mata kuliah seperti yang diajarkan di India yaitu pancavidya, seperti logika, tata bahasa dan kesusastraan, ilmu pengobatan, kesenian, serta metafisika dan filsafat.

Tata cara dan upacara pun tidak berbeda. Jika bhikshu dari China berkehendak untuk belajar di India, sebaiknya dia tinggal di Sriwijaya selama satu atau dua tahun untuk mempersiapkan dan melatih dirinya tentang cara-cara yang benar. Tempat yang dimaksud oleh I-Tsing diperkirakan adalah Muaro Jambi.