Surat Kabar Tionghoa, Sin Po Tinggal Kenangan

2017-12-06 13:00:50
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Oktaviani
Surat kabar, sin po (Istimewa)

SIN Po merupakan harian pertama yang memuat teks lagu Indonesia Raya pada 10 November 1928. Surat kabar Tionghoa ini kini tinggal kenangan.

Sin Po merupakan surat kabar Tionghoa berbahasa Melayu yang terbit di Hindia Belanda sejak 1910. Pertama kali diterbitkan di Jakarta setiap pekan pada Oktober 1910. Selang dua tahun, berubah menjadi surat kabar harian. Namun, kini surat kabar tersebut tinggal kenangan.

Harian Sin Po berperan penting dalam menyebarkan teks lagu kebangsaan, Indonesia Raya. Merupakan harian pertama yang memuat teks lagu Indonesia Raya pada 10 November 1928. Selain itu, turut mempelopori penggunaan nama ‘Indonesia’ untuk menggantikan ‘Hindia-Belanda’ sejak Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Harian ini juga yang menghapus penggunaan kata 'inlander' dari semua penerbitannya karena dirasa sebagai penghinaan oleh rakyat Indonesia.

Sebagai balas budi, pers Indonesia mengganti sebutan 'Cina' dengan 'Tionghoa' dalam semua penerbitannya. Dalam percakapan sehari-hari, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tjipto Mangoenkoesoemo kemudian juga mengganti kata 'Cina' dengan kata 'Tionghoa'.

Harian Sin Po memiliki pandangan politik yang pro-nasionalis Tiongkok. Berdasarkan ajaran Dr Sun Yat Sen, Sin Po mendukung perjuangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan. Dalam San Min Chu I, Sun Yat Sen menulis perkembangan kemerdekaan Tiongkok tidak akan sempurna selama bangsa-bangsa di Asia belum merdeka.

Gerakan pro-nasionalis Tiongkok yang didukung Sin Po akhirnya sirna seiring dengan kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, yang juga banyak didukung tokoh-tokoh Tionghoa. Mereka menyatakan Tionghoa adalah bagian dari bangsa Indonesia pernah mengorganisir dalam Partai Tionghoa Indonesia (PTI) pada 1932.

Harian Sin Po berhenti terbit saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942, namun kembali terbit pada tahun 1946. Pada tahun 1962 harian ini berganti nama menjadi Warta Bhakti sebelum akhirnya dibredel pemerintah pada tahun 1965 setelah kejadian Gerakan 30 September.