Tiong Hwa Hwee Koan Cikal Bakal Pendidikan Tionghoa di Semarang

Selasa, 19 Desember 2017 12:28:09
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Ketua Yayasan Widya Mitra Widjajanti Dharmowijono berbagi kisah dunia pendidikan Tionghoa di Semarang. (Istimewa)

TIONG Hwa Hwee Koan, cikal bakal lembaga pendidikan masyarakat Tionghoa di Semarang, namun kini digunakan untuk balai pengobatan dan pusat kegiatan lansia.

Gedung Tiong Hwa Hwee Koan (THHK) merupakan bagian sejarah perjalanan masyarakat Tionghoa di Semarang. Pasalnya, gedung yang berada di Jalan Gang Tengah, Pecinan, Semarang ini merupakan embrio (cikal bakal) lembaga pendidikan masyarakat Tionghoa di Semarang. Sekolah Tiong Hwa Hwee Kwan (Long Hua) mulai beroperasi pada 16 April 1904 dengan tiga orang guru dan 80 murid.

Kini, bangunan yang didirikan pada 17 Januari 1904 ini dimanfaatkan untuk balai pengobatan dan pusat kegiatan kaum lansia. Hal ini diutarakan Ketua Yayasan Widya Mitra Semarang Widjajanti Darmowijono dihadapan peserta Heritage Walk.

“THHK beridir pertama di Batavia pada 1900. THHK merupakan lembaga pendidikan bagi anak-anak Tionghoa. Selanjutnya, lembaga ini berkembang ke daerah-daerah. Untuk di Semarang, mulai dirintis pada 1904,” kata Inge, sapaan akrab Widjajanti Darmowijono.

Pembukaan THHK ini menginspirasi kelompok-kelompok lain untuk membuka lembaga pendidikan (sekolah) yang terpisah dari lembaga pendidikan yang didirikan pemerintah Hindia Belanda.

”Ini termasuk menginpirasi tokoh pergerakan Wahidin Sudiro Husodo dengan Boedi Oetomo, kemudian juga tokoh-tokoh pergerakan lainnya mendirikan lembaga Taman Siswa, Muhammadiyah dan lainnya. Muaranya semangat kebangsaan kemudian tumbuh mendorong lahirnya Sumpah Pemuda 1928,” jelas Inge.

Perkembangan selanjutnya, lanjut Inge, sekolah yang awalnya berlokasi di Gang Tengah, karena jumlah siswanya yang terus bertambah pindah ke Gang Pinggir (kebon Dalem). Pada 3 Februari 1935, Long Hua menempati lokasi di Jalan Plampitan yang lingkungannya lebih luas dan bersih.

Lembaga pendidikan ini terus berkembang hingga pada 1954, jumlah siswanya mencapai sekira 2.300 orang dengan jumlah kelas mencapai 46 dan pembimbingnya mencapai 60 orang.

Bahkan menjelang 1965 jumlah muridnya mencapai 3.100 siswa dengan tenaga pengajar 120 orang guru. “Namun, pada tahun itu juga sekolah ini ditutup. Pasalnya, karena pergolakan politik yang melanda Indonesia,” tutup Inge.