Vihara Lawas Saksi Sejarah Etnis Tionghoa di Bogor

2017-07-17 10:57:34
Editor : Azis Faradi | Reporter : Nurrochmansyah
Vihara Dhanagun, dengan usia lawas hadir menjadi saksi sejarah Tionghoa dan kerukunan umat di Pecinan Bogor, Jawa Barat. (Nurrochmansyah)

Menjadi saksi sejarah keberadaan etnis Tionghoa di Bogor. Vihara lawas yang masih kokoh berdiri itu, masih digunakan sebagai pusat ibadah 3 agama.

NAMANYA Vihara Mahacetya Dhanagun, kadang juga disebut Vihara Dhanagun. Merupakan yang tertua di Kota Bogor, Jawa Barat. Berada di tengah pecinan, yaitu di Suryakencana. Selain sebagai pusat ibadah, juga saksi sejarah tentang keberadaan etnis Tionghoa.

Ada juga yang menyebut sebagai Vihara Hok Tek Bio, pusat ibadah bagi  3 agama, yaitu Taoisme, Konghucu, dan Buddha. Memiliki luas, 635 meter persegi. Hampir setiap hari vihara ini ramai dikunjungi para umat yang ingin sembahyang.

Menurut cerita warga pecinan setempat usia dari vihara ini sekitar 345 tahun, atau berdiri pada tahun 1672. Namun, usia ini tak ada dasar secara imliah, karena Tionghoa di yang tinggal di Bogor baru ada setelah tahun 1740.

Ini mengacu pada peristiwa Geger Pecinan yang terjadi di Batavia, sekarang Jakarta, pada tahun 1739 sampai 1740. Saat itu, Pemerintah Belanda melakukan pembantaian terhadap Tionghoa. Diperkirakan ada 10.000 jiwa yang meninggal.

Tionghoa yang hidup, diberikan kesempatan untuk pindah, ke berbagai wilayah, termasuk Bogor dan Tangerang. Ada juga yang ke wilayah Jawa lainnya. Perpindahan warga Tionghoa ke berbagai wilayah itu dibarengi dengan syarat, yaitu tidak boleh tinggal bersama warga setempat.

Maka, mereka membentuk kawasan tempat tinggal dan perdagangan di satu tempat yang akhirnya disebut sebagai pecinan. Saat pindah itu, juga membangun klenteng dan vihara sebagai pusat ibadah warga Tionghoa.

Menurut Ayung, pengurus harian Vihara Dhanaguan, jika melihat peristiwa itu, maka besar kemungkinan tempat ibadah ini dibangun setelah peristiwa Geger Pecinan. “Sebagian besar etnis Tionghoa yang pindah ke Kota Hujan ini dilokalisir di sekitar jalan Suryakencana. Hal inilah yang membuat menjadi Pecinan Bogor.”

Maka dari itu, kemungkinan besar vihara dibangun 70 tahun setelah Geger Pecinan 1740. Kemungkinan usianya sekarang 207 tahun atau 2 abad. Kehadiran vihara ini untuk memberikan ruang bagi tiga agama, yang mayoritas dipeluk etnis Tionghoa.

Meskipun digunakan sebagai tempat ibadah 2 agama, tapi bisa berjalan berdampingan sejak ratusan tahun hingga sekarang. Tak ada saling klaim antara pemeluk yang satu dengan lain sebagai pemilik yang sah atas vihara.

Yang pasti, katanya, Vihara Dhanagun menjadi sejarah keberadaan dan perkembangan Tionghoa di Kota Bogor. Menjadi saksi bisu bagaimana Tionghoa menghadapi berbagai tekanan dari pemerintah, dari Zaman Belanda hingga era Orde Baru.

Setelah peristiwa Geger Pecinan, kegiatan Tionghoa di vihara itu mulai berjalan normal, hingga Indonesia merdeka. Setelah itu, semakin diakui sebagai salah satu ikon di Pecinan Bogor. Namun, ketika era kekuasaan Presiden Soeharto, keberadaan vihara mulai ditelan keadaan.

Kata Ayung, sekitar 32 tahun, semua aktivitas di vihara dilakukan dengan “jalan sunyi”. Pemerintah saat itu dengan tegas melarang semua kegiatan budaya dan ibadah yang berkaitan dengan Tionghoa.

Kebijakan pemerintah juga menjadikan vihara tak terdengar namanya sama sekali. Bahkan generasi muda tak mengetahui keberadaanya. Tenggalam bagaikan ditelan lautan, hanya orang-orang tua yang tahu, tak tak bisa leluasa mengajak yang muda, karena takut atas larangan itu.

Setelah Orde Baru runtuh, dibawah Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), maka Tionghoa kembali mendapatkan identitasnya. Setelah diberikan kembali hak untuk menjalankan keyakinan dan ritual budaya, maka vihara tersebut mulai muncul ke permukaan.

Warga Tionghoa mulai berani secara terang-terangan datang beribadah, dan mengadakan kegiatan leluhur di vihara. Bahkan menjadi pusat perayaan Tahun Baru Imlek setiap tahun. Vihara Dhanagun, selain menjadi saksi bisu keberadaa Tionghoa, juga potret nyata kerukunan umat beragama.