Bedah Buku Dan Peluncuran Novel Tionghoa ‘Enru (1980-1741)’

Rabu, 09 Mei 2018 16:00:21
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : CHC Saputro
Peluncuran dan bedah buku novel Tionghoa 'Enru (1980-1741)'. (Istimewa)

Kegiatan bedah buku novel Tionghoa ini, diharapkan bisa memotivasi hadirnya penulis-penulis novel Tionghoa yang masih sangat jarang di Indonesia.

JAKARTA – Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia bekerja sama dengan Museum Sejarah Jakarta dan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, menggelar peluncuran sekaligus bedah buku novel Tionghoa berjudul ‘Enru (1980-1741)’ di Ruang Theater Museum Sejarah Jakarta, Minggu (5/5).

Sang penulis Lia Zhang menuturkan, novel bergenre sejarah ini menceritak sosok Enru Tirtonegoro, direktur kreatif sebuah biro iklan di Jakarta yang terlempar dari abad 20 ke abad 18, dimana Jakarta masih bernama Batavia. Perlahan, Enru pun mengikuti sekaligus menjadi saksi dari sejumlah peristiwa terkait masyarakat Tionghoa di Batavia, termasuk melihat realitas Tionghoa Peranakan dan Tionghoa Totok. “Enru akhirnya memutuskan untuk mengubah nasib golongan Tionghoa, berjuang bersama,” tukasnya.

Hadir dalam bedah buku dan peluncuran novel Tionghoa ini antara lain, aktivis dan pemerhati sejarah budaya Tionghoa Suma Mihardja, pegiat Literasi Sekar Chamdi dengan moderator M. Rizal Salam. “Untuk menilai buku Enru, pembaca harus memiliki cukup pengetahuan. Misalnya, sejak kapan Tionghoa bermukim di Batavia. Mengapa ada kuda, padahal kuda bukan hewan asli Nusantara. Orang harus tahu dimana Batavia dan di mana luar Batavia. Begitu juga soal hoe fan hu, kapan berubahnya,” singkat Suma.