Festival Warak Ngendok di Sam Poo Kong

2017-10-16 15:24:03
Editor : Azis Faradi | Reporter : CHC Saputro
Salah satu pertunjukan seni dalam Festival Warak Ngendok di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang. (CHC Saputro)

SAJIAN seni dalam Festival Warak Ngendok di Klenteng Sam Poo Kong. Menunjukkan pertunjukan dari gambaran hewan hayalan, tapi mencerminkan tiga budaya.

Selama Oktober 2017, di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang, Jawa Tengah, ada Festival Warak Ngendok. Pemilihan acara seni itu, karena identik dan sangat dekat dengan masyarakat sekitar. Menghadirkan suasana kebahagiaan.

Warak Ngendok biasanya hadir pada upacara menyambut bulan Ramadhan dalam penanggalan Islam. Bahkan pada setiap pertunjukan warak ngendok, Pemerintah Kota Semarang, mengadakan karnaval budaya.

Klenteng Sam Poo Kong ingin kemeriahan perayaan warak ngendok tidak hanya bisa dinikmati setahun sekali. Oleh karena itu, dihadirkan setiap akhir pekan selama Oktober 2017. Selain menunjukan karya seni, juga menepis isu sara yang kerap berkembang.

Festival ini akan dimeriahkan dengan beberapa acara lain, seperti bazar kuliner, atraksi barongsai dan naga, demo memasak, live music, dan juga  lomba fotografi.

Untuk diketahui, warak ngendhok menjadi salah satu ikon Kota Semarang, Jawa Tengah. Sebuah karya peninggalan leluhur, representasi perkawinan budaya Tionghoa dengan Arab dan Jawa. Ini juga menjadi penegasan tentang kehidupan harmonis di tengah masyarakat setempat.

Perpaduan tiga budaya dalam warak ngendhok telah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Penyerbukan silang budaya berjalan dengan sentuhan kearifan lokal yang kental. Warak ngendhok juga membuat Semarang dikenal menjadi salah satu kota multietnis.

Warak ngendhok adalah  makhluk mitologi yang kini jadi indentitas Semarang. Hingga kini tak ada yang tahu asal usul makhluk tersebut. Namun warga Semarang sangat mengenalnya. Sebuah makhluk imajnatif berwujud binatang dengan tiga bagian tubuh berbeda.

Bagian tubuh tersebut merepresentasikan tiga etnis besar yang hidup berdampingan di Kota Semarang yaitu Tionghoa, Arab, dan Jawa.

Untuk representasi Tionghoa diwujudkan lewat bentuk kepala warak ngendhog yang serupa dengan kepala naga barongsai. Di bagian lain, tubuhnya mirip buraq, hewan menyerupai kuda dalam kepercayaan Islam yang melambangkan etnis Arab.

Adapun perwakilan budaya Jawa melalui keempat kaki warak ngendhog yang mirip dengan milik kambing. Ciri yang khas dari warak ngendhog lehernya lurus. Bentuk ini mengandung filosofi yang mendalam.

Bahwa masyarakat Semarang merupakan orang-orang yang terbuka, lurus dan berbicara apa adanya. Dari segi bahasa, warak ngendhog berasal dari dua kata. Kata warak merupakan turunan dari kata warai yang berarti suci.

Sementara ngendhog artinya bertelur. Jika diartikan, warak ngendhog memiliki arti bahwa siapa yang menjaga kesucian atau kebaikan selama bulan suci maka akan mendapatkan pahala di hari lebaran.