Mengaji Langgam Seni Shufa di Rumah Kaligrafi

2017-12-08 12:09:02
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Beberapa orang sedang belajar seni Shufa. (Istimewa)

INGIN mengetahui dan mengaji langgam seni shufa, kunjungi Rumah Kaligrafi di Gang Besen, No. 80-82, Pecinan Semarang.

Setiap hari Minggu, Gedung Pertemuan Marga Po atau yang sering disebut dengan Rumah Kaligrafi yang berada di Gang Besen, No. 80-82 kerap dikunjungi orang yang ingin mengetahui, mempelajari atau mengaji langgam seni shufa atau kaligrafi Tiongkok.

Seperti pekan lalu, nampak beberapa orang mengelilingi meja-meja besar yang tersedia. Mereka sedang asik menarik-narikan kuas (maopit) yang ujungnya sudah dicelupkan pada tinta Tiongkok.

“Mereka sedang berlatih menorehkan tinta di kertas membentuk huruf kanji berirama,” kata Hidayat, Sesepuh di Rumah Kaligrafi.

Pada media kertas tersebut, mereka menulis huruf-huruf yang indah, menjadi kata-kata bijak atau puisi. Mereka sedang mempraktekkan seni shufa. “Kebanyakan yang berminat mendalami seni shufa adalah orang lanjut usia, meski ada beberapa anak muda. Bisa dilihat saat ini,” ungkapnya.   

Menurut Hidayat, sudah sepuluh tahun belakangan ini para penggemar kaligrafi Tiongkok atau shufa berkumpul di tempat ini. “Sudah 10 tahun kami membentuk Perhimpunan Kaligrafi Semarang. Kebetulan pemilik rumah ini meminjamkan gedung ini secara gratis untuk kami berkumpul,” urainya.

Lebih lanjut, Hidayat menjelaskan, siapapun boleh belajar di tempat ini. Karena, yang belajar langgam seni shufa tak melulu orang Tionghoa. Langgam seni ini bisa dijadikan media pembauran. “Kalau yang mau ikut belajar, harus beli kuas atau maopit-nya saja,” jelasnya.

Hidayat mengaku prihatin karena peminat seni shufa mulai berkurang. “Belajar Mandarin, apalagi menulis huruf kanji memang sulit. Mungkin ini alasannya kaum muda Tionghoa enggan mempelajarinya. Padahal mereka punya tanggungjawab untuk merawat dan menjaga budaya leluhur,” pungkasnya.