Meriahkan Imlek 2569, Hartono Mall Hadirkan Oriental Dance

Kamis, 08 Maret 2018 15:42:27
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : Hendro Wibowo
Oriental Dance di Hartono Mall yang dibawakan oleh mahasiswa dan duta budaya asal Tiongkok di Indonesia. (Hendro Wibowo)

Oriental Dance di Hartono Mall Yogyakarta ini dibawakan oleh sembilan penari wanita, mahasiswi sekaligus duta budaya asal Tiongkok di Indonesia.

YOGYAKARTA – Guna memeriahkan perayaan Tahun Baru Imlek 2569, Hartono Mall Yogyakarta menggelar pertunjukkan oriental dance yang dibawakan oleh En Hui Grup, sekumpulan mahasiswi asal Tiongkok yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Perwakilan En Hui Grup Yusita Halim mengatakan, para penari yang juga merupakan duta kebudayaan tersebut membawakan Tarian Liyi Zhi  Bang Xuanji, tarian warisan budaya asal Tiongkok yang mengandung pesan tentang kesopanan dan tatakrama. “Tarian ini disusun oleh penulis lirik Anjiuji dan Koreografer Xuanji. Menggambarkan bagaimana etika pria dan wanita yang sesuai dengan warisan leluhur,” jelasnya.

Di negara Tiongkok, lanjutnya, pria memiliki lambang etika ‘kiri ke atas’. Kiri melambangkan ‘hormat’ dan atas melambangkan ‘surga’ dan juga pria. Artinya adalah, pria wajib dihormati dan menghormati.  Orang Tiongkok percaya jika seorang pria bisa menghormati wanitanya, maka dia akan mendapatkan surga dan mendatangkan surga dalam kehidupan rumah tangganya. Surga juga dapat diartikan kedamaian.

Sedangkan untuk wanita, dilambangkan dengan ‘kanan ke bawah’. Kanan itu melambangkan ‘kerendahan hati’, sedangkan panah ke bawah diartikan ‘bumi’. Jadi, jika wanita bisa menghargai prianya, maka dia bisa memiliki bumi. Untuk bisa menghormati pria, wanita membutuhkan kerendahan hati. Dapat diartikan juga, wanita yang memiliki kerendahan hati mendatangkan ‘kehidupan’ bagi rumah tangganya. Tarian ini dibuat untuk menyampaikan pesan keseteraan gender antara pria dan wanita.

Hal-hal yang terjadi saat ini diyakini oleh koreografer tarian ini terjadi dengan sebaliknya. Peran pria dan wanita kerap tertukar. Xuanji sebagai koreografer tarian ini merasa bahwa wanita itu memiliki karakter sombong sehingga tidak menghormati pria, begitu juga sebaliknya pria tidak menghargai wanita. Xuanji berharap dapat kembali mengingatkan seluruh warga China akan peran pria dan wanita ini. Besar harapan Xianji untuk dapat melihat perdamaian dan saling menghormati antara pria dan wanita. Sama halnya dengan konsep “Yin dan Yang”. Konsep ini sangat diyakini oleh orang China pada umumnya. Yin dan yang merupakan keseimbangan unsur antara langit dan bumi. Melaui keseimbangan yang terjadi terpacar sebuah kehidupan.” Jelasnya.

“Kami ada sembilan penari. Memang susunannya ganjil. Ini bukan tarian sakral, Cuma seperti budaya saja. Ini tidak sakral, tidak untuk penyembahan. Ini hanya untuk mengingatkan saja, bagaimana karakter pria dan wanita.” Katanya menutup perbincangan usai pementasan oriental dance di Hartono Mall Yogyakarta.