Sakralnya Tarian Tionghoa Dewi Seribu Tangan

Kamis, 19 April 2018 15:15:26
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : Oktaviani
Tari Dewi Seribu Tangan. (Istimewa)

Bagi ummat Buddha, Tari Dewi Seribu Tangan bukan sekadar tarian Tionghoa belaka, melainkan ritual dalam agama.

JAKARTA – Dalam kebudayaan Tionghoa, ada satu tarian Tionghoa yang kerap dibawakan dalam setiap gelaran acara, yakni Tarian Dewi Seribu Tangan. Dalam bahasa Tionghoa, tarian ini disebut dengan Qian Shou Guan Yin yang dulu dikenal sebagai tarian yang disuguhkan untuk menghibur kaisar.

Di era modern, tarian ini kini bisa dinikmati oleh siapa saja, terutama saat hari-hari besar masyarakat Tionghoa, atau dalan event warga Tionghoa. Seperti yang dihadirkan di atas panggung Pasar Taon Baroe 2018 di Mal Kota Kasablanka (15/2) lalu.

Tarian Dewi Seribu Tangan mengimplementasikan sebuah keindahan dalam kehidupan. Karena terlahir pada zaman kerjaan Tiongkok, membuat alunan musik yang menyertainya lebih terdengar ‘kasar’, berwibawa dan menggelegar. Setiap gerakan mengandung arti, seperti kekompakan, keharmonisan, keselarasan, serta kesakralan. Gerakan gemulai dan ritmis, ayunan tangan, gelengan kepala, liuk tubuh, menciptakan pemandangan harmonis yang memukau.

Selain memperlihatkan keindahan, tarian ini juga memiliki makna yang sangat dalam, karena bagi warga Tionghoa yang minoritas beragama Budha, tarian ini bukan hanya sebagai pertunjukan atau tradisi, tetapi ritual agama.

Dalam Tarian Seribu Tangan ada cerita yang terselip tentang Bodhisatwa Guan Yin, atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Dewi Kwan In. Guan Yin memiliki seribu tangan yang menandakan kemampuannya menolong orang-orang yang membutuhkan. Tiap tangannya dilengkapi dengan mata yang membuatnya mampu mengawasi dunia.

Bukan perkara mudah membawakan tarian Tionghoa ini. Butuh koordinasi yang baik antara satu penari dengan penari yang lainnya. Ketepatan para pemain membentuk posisi lengan dan tangan serta berdiri di belakang satu sama lain dalam kolom yang sempurna menjadi tantangannya. Jika satu penari kehilangan konsentrasi akan mengganggu konsentrasi penari yang lain, sehingga Tari Dewi Seribu Tangan ini tidak akan terlihat seperti Dewi Seribu Tangan.